Pedagang buka lapak blangkon hingga wayang di Istana Merdeka

Pedagang buka lapak blangkon hingga wayang di Istana Merdeka

Pelapak menjelaskan karakter wayang kepada dalang cilik saat diadakan pagelaran wayang kulit 74 tahun Indonesia di luar kawasan Istana Merdeka, Jumat (2/8). (ANTARA News/DEVI NINDY)

Jakarta (ANTARA) - Sejumlah pedagang membuka lapak blangkon, baju lurik, hingga wayang yang merupakan pernak-pernik khas suku Jawa di kawasan Istana Merdeka Jakarta, Jumat.

Lapak-lapak penjual tersebut, menurut penjual replika wayang bernama Gondo, akan selalu hadir di setiap pagelaran wayang di kawasan Jakarta dan sekitarnya.

"Kami pelapak yang tergabung di Paguyuban Pandawa, berjualan sewaktu ada pagelaran wayang kulit," ujar pria yang mengaku sudah berjualan wayang selama 17 tahun itu.

Ia menjual replika wayang mulai dari Rp50.000 hingga yang paling besar dijual seharga Rp150.000. Tak hanya itu, ia menjual berbagai cinderamata yang lekat dengan karakter wayang.

Selain itu, tampak sejumlah lapak pedagang yang menjual pakaian adat khas suku Jawa, berikut aksesori khas seperti blangkon dan baju lurik, hingga kaos sablon wayang.

"Ini bawa langsung dari Solo, semua dipesan langsung dan dijual waktu ada pagelaran wayang," ujar salah satu pelapak, Puryanto.

Harga sepotong baju, aksesoris, dan celana yang ditawarkan di lapak itu mulai dari harga Rp80.000 saja.

Puryanto mengatakan dirinya setia bertahun-tahun berjualan baju dan aksesori yang lekat dengan karakter pewayangan dan kebudayaan Jawa, meski tinggal lama di Jakarta.

"Ya enggak cuma jualan, kan ini melestarikan tradisi dan budaya," ujar dia.

Pentas wayang kulit 74 tahun Indonesia semalam suntuk untuk masyarakat umum diselenggarakan Presiden Joko Widodo di Istana Merdeka Jakarta.

Pentas wayang itu mengambil lakon "Kresno Jumeneng Ratu" dengan dalang wayang kulit, Ki Manteb Sudarsono dan dimeriahkan penampilan Didi Kempot, Butet Kertaradjasa, Cak Lontong, Akbar, Kirun, Den Baguse Ngarso, Soimah, Endah Laras, dan Edo Kondologit.
Pewarta : Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Yuniardi Ferdinand
COPYRIGHT © ANTARA 2019