Industri lampu tenaga surya bidik pasar Indonesia Timur

Industri lampu tenaga surya bidik pasar Indonesia Timur

Pekerja memproduksi lampu tenaga surya hemat energi saat peresmian pabrik PT Santinilestari Energi Indonesia di kawasan Ngerong, Gempol, Pasuruan, Jawa Timur, Kamis (25/7/2019). . ANTARA FOTO/Umarul Faruq/aww.

Pasuruan (ANTARA) - Perusahaan industri manufaktur energi terbarukan PT Santinilestari Energi Indonesia membidik pasar Indonesia Timur, menyusul wilayah tersebut masih banyak yang belum teraliri listrik dengan maksimal.

Direktur PT Santinilestari Energi Indonesia Ricky Sudinto Pontoh di Pasuruan, Kamis mengatakan, sebanyak 90 persen produk yang dihasilkan saat ini berupa lampu.

"Oleh karena itu, kami akan membantu pemerintah menerangi wilayah Indonesia bagian timur melalui lampu bertenaga surya," katanya saat pembukaan pabrik di Gempol, Pasuruan, Jatim.

Ia mengatakan, sebagian besar hasil produksi yang dihasilkan adalah lampu penerangan jalan, salah satunya jalan tol.

"Kami juga bekerja sama dengan Kementerian PUPR untuk membantu mewujudkan keinginan Presiden Jokowi membantu masyarakat di Indonesia Timur supaya bisa menikmati penerangan," katanya.

Ia menjelaskan, selain lampu penerangan jalan, pihaknya juga memproduksi lampu rumah tangga, dengan menyempatkan teknologi pintar di dalamnya.

"Itulah yang membedakan lampu kami dengan produk sejenisnya, karena untuk mengoperasikannya bisa dengan menggunakan teknologi android atau juga ios," ujarnya.

Selain itu, kata dia, lampu yang diproduksi ini seratus persen dirakit di Indonesia dengan menggunakan teknologi tenaga matahari sebagai bahan baku energi.

"Bahkan, pabrik yang kami bangun di lahan seluas satu hektar ini murni menggunakan energi matahari, dan tidak menggunakan energi listrik dari PLN," katanya.

Itulah sebabnya, kata dia, yang membedakan produk energi terbarukan dengan produk sejenis lainnya, sehingga sangat mudah menjangkau wilayah pedalaman.

"Kami menginvestasikan dana sekitar 10 juta Dolar Amerika untuk membangun pabrik ini dengan mengakhiri sebanyak 150 tenaga kerja," katanya.

 Presiden Direktur Santini Group Luki Wanandi  mengaku jika pemanfaatan energi matahari di Indonesia perlu dimaksimalkan.

"Indonesia ada dua musim, kemarau dan hujan. Ini yang harus dimanfaatkan secara maksimal, salah satunya untuk membantu penerangan di wilayah Indonesia Timur," katanya.

Perusahaan itu kini memproduksi peralatan Elektronik khususnya Solar Smart Charge Controller, Panel Modul, Lampu SEHEN (Super Ekstra Hemat Energi), PLTS Komunal (Solar Power), dan LPJU-TS (Lampu Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya), LPJU (Lampu Penerangan Jalan Umum).

Baca juga: Indonesia masih impor 250 juta lampu/tahun
Baca juga: Pemakaian lampu hemat energi cukup tinggi
Baca juga: Produsen Lampu Hemat Energi Diminta Tingkatkan Komponen Lokal
Pewarta : Indra Setiawan
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019