Hakim bebaskan PPK Cilincing dari dakwaan manipulasi suara

Hakim bebaskan PPK Cilincing dari dakwaan manipulasi suara

Sidang putusan PPK Cilincing di PN Jakarta Utara. (Istimewa)

Jakarta (ANTARA) - Pengadilan Negeri Jakarta Utara membebaskan lima anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Cilincing dari dakwaan manipulasi suara calon anggota legislatif DPRD DKI Jakarta pada Pemilu 2019.

"Para terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah," kata Ketua Majelis Hakim, Didik Wuryanto, saat membacakan putusan di PN Jakarta Utara, Rabu.

Lima anggota PPK Cilincing yang terlibat kasus ini adalah ketua PPK Idim Amin, serta Khoirul Rizqi Attamami, Muhammad Nur, Hidayat, dan Ibadurrahman sebagai anggota.

Baca juga: Hakim PN Jakut nyatakan caleg PAN bersalah langgar aturan kampanye

Dalam dakwaan terhadap PPK Cilincing itu disebutkan ada perbedaan jumlah suara antara formulir C1 yang diterima pelapor dengan data yang diunggah oleh PPK Cilincing.

Namun Didik menilai formulir C1 yang digunakan oleh PPK Cilincing bisa dipertanggungjawabkan validitasnya.

Hal itu didasarkan fakta bahwa formulir C1 yang digunakan PPK Cilincing diperoleh langsung dari Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Dia juga mengatakan banyak formulir C1 yang beredar namun validitasnya belum bisa dipastikan.

"Banyak beredar salinan C1 sehingga tidak dapat diketahui validitasnya," ujar Didik.

Majelis hakim juga menyebut fakta bahwa tidak ada saksi yang mengajukan keberatan saat berlangsungnya rekapitulasi ulang.

Baca juga: Diduga manipulasi suara, JPU tuntut PPK Koja satu tahun penjara

Oleh karena itu, berdasarkan fakta di atas majelis hakim menilai dakwaan bahwa anggota PPK Cilincing lalai dalam menjalankan tugasnya tidak terbukti.

"Membebaskan para terdakwa dari semua dakwaan," tutur Didik.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, laporan dugaan penghilangan suara oleh PPK itu dilaporkan oleh caleg DPRD DKI nomor urut 1 dari Partai Demokrat H. Sulkarnain dan caleg DPRD DKI nomor urut 5 Partai Gerindra M. Iqbal Maulana.

Sulkarnain melapor ke Bawaslu Jakarta Utara lantaran suaranya diduga berpindah ke caleg lain.

Tim JPU yang beranggotakan Fedrik Adhar, Erma Octora dan Doni Boy Faisal Panjaitan sebelumnya menuntut hukuman satu tahun penjara kepada 10 anggota PPK Koja dan Cilincing atas dugaan terlibat dalam tindak pidana pemilu yakni penghilangan suara.

Baca juga: Seluruh PPK Cilincing dan Koja jadi tersangka tindak pidana Pemilu
Pewarta : Fianda Sjofjan Rassat
Editor: Eddy K Sinoel
COPYRIGHT © ANTARA 2019