Balai Arkeologi lacak peninggalan negeri-negeri lama Maluku

Balai Arkeologi lacak peninggalan negeri-negeri lama Maluku

Arsip Foto. Warga Negeri Rohomoni, Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah,mengikuti tradisi Maasiri Rumah Sigit atau pergantian atap Masjid Tua Uli Hatuhaha di Desa Rohomoni yang dibangun pada abad 16. (ANTARA FOTO/ Jimmy Ayal)

Ambon (ANTARA News) - Balai Arkeologi Maluku meneliti peninggalan arkeologi di beberapa situs negeri lama di Ambon, Pulau Seram, serta Pulau Haruku dan Saparua di Kepulauan Lease.

Menurut Koordinator Penelitian Balai Arkeologi Maluku Muhammad Al Mujabuddawat, Rabu, penelitian 28 hari dari 18 Oktober sampai 10 November itu dipusatkan di situs Lokki dan situs Alang Asaude di Pulau Seram, negeri Alaka di Pulau Haruku, negeri Ihamahu dan Siri-Sori Islam di Pulau Saparua serta negeri Kaitetu dan Morella di Pulau Ambon.

"Kita mendata temuan karena untuk target capaian rekonstruksi utuh pertama diperlukan denah untuk menelusuri jejak-jejak struktur batas wilayah, klaster pemukiman, pembagian fungsi, lansekap fungsi, aspek ruangan sekaligus untuk faktor kehidupan di pemukiman juga bisa mendapat data," katanya, menjelaskan penelitian.

Ia menuturkan pelacakan sulit dilakukan di situs Alaka, Pulau Haruku. Warga setempat masih mensakralkan tempat itu, karenanya peneliti hanya bisa melakukan pendataan di benteng saja.

Selain di Alaka, benteng juga ditemukan di Negeri Ihamahu yang berpemandangan indah. Benteng itu agak miring.

"Di puncak gunung juga ada permukiman yang terlihat lutur-luturnya, tetapi sangat disayangkan ketika kami datang kondisinya sangat memprihatinkan, sehingga ketika diambil foto tidak jelas bentuknya. Tetapi kami masih bisa telusuri melalui tracking GPS, " ujarnya.

Kendati demikian, menurut Mujabuddawat, peneliti mendapatkan temuan yang cukup lengkap di beberapa situs, terutama di Dusun Asaude yang memiliki masjid kuno dan semacam benteng pertahanan.

"Kami merujuk pada peta kuno dan lokasinya sesuai dengan bukti yang terstruktur, serta belum pernah didata sama sekali, yakni tebing tinggi masuk temuan baru karena dari bentuknya itu benteng pertahanan yang sangat tinggi serta ada balkon di sekeliling bukit yang terlihat untuk pertahanan," ia menjelaskan.

Dalam penelitian di Seram, Haruku, Saparua dan Ambon, para peneliti juga menemukan peninggalan berupa batu meja (dolmen), batu-batu tegak (menhir), susunan batu perbentengan tradisional, gerabah, meriam serta nisan-nisan kuno yang terbuat dari batu.

Baca juga:
Balai Arkeologi selidiki peninggalan Mataram Kuno di Sleman
BPCB akan mendata lukisan prasejarah di gua-gua Pulau Kisar

 
Pewarta : Penina Fiolana Mayaut
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018