12 alat peringatan tsunami di Pangandaran rusak

12 alat peringatan tsunami di Pangandaran rusak

Alat Deteksi Tsunami Seorang petugas memeriksa alat deteksi tsunami, di stasiun pasang surut sistem peringatan dini tsunami, di Simuelue, Aceh, Sabtu (14/4). Pemeriksaan untuk melihat kondisi alat deteksi tsunami tersebut, rutin dilaksanakan dalam 15 hari sekali. (FOTO ANTARA/Irsan Mulyadi)

Bandung (ANTARA News) - Sebanyak 12 alat peringatan dini tsunami yang terpasang di kawasan pantai Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, dalam kondisi rusak sehingga tidak dapat berfungsi untuk memberitahukan secara dini kepada masyarakat ketika ada ancaman bahaya bencana tsunami.

"Alat "Early Warning System" tsunami ada 14 buah tapi yang berfungsi hanya dua," kata Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (DPKPB) Kabupaten Pangandaran, Nana Ruhena melalui telepon seluler, Selasa.

Ia menuturkan pemerintah telah memasang 14 alat peringatan tsunami tersebut sebagai alat untuk memberitahukan masyarakat pesisir pantai tentang ancaman bencana tsunami.

Alat itu, kata dia, sudah terpasang sepanjang pantai Kabupaten Pangandaran mulai dari Kalipucang sampai Cimerak yang sebagian besar kondisinya rusak karena korosi.

Sedangkan dua alat peringatan tsunami yang masih berfungsi, kata dia, hanya di dua titik yakni di Bojes dan Telkom Pangandaran.

"Yang berfungsi di Bojes dan Telkom Pangandaran, sisanya tersebar mulai dari Kalipucang sampai Cimerak," katanya.

Ia menyampaikan, alat peringatan tsunami yang rusak itu kondisinya sangat parah sehingga tidak bisa diperbaiki.

Menurut dia, alat yang rusak itu sebaiknya diganti dengan yang baru agar keberadaannya dapat berfungsi optimal.

"Susah diperbaiki, komponennya susah, lebih baik beli yang baru," kata Nana.

Ia menambahkan, Pemerintah Kabupaten Pangandaran sedang mengusulkan bantuan kepada Pemerintah Provinsi Jabar untuk pemasangan baru alat peringatan tsunami.

Setelah terpasang, kata dia, pemerintah daerah akan melakukan perjanjian dengan masyarakat setempat untuk menjaga, merawat dan memberikan informasi apabila ada yang rusak.

"Kalau nanti punya dan mau dipasang lagi, kita bikin perjanjian dengan masyarakat sekitar untuk sama-sama menjaga, merawat," katanya.

Sebelumnya, wilayah Pangandaran yang sebelumnya masuk wilayah administrasi Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, pernah dilanda bencana tsunami pada 2007.

Bencana tsunami tersebut telah menimbulkan banyak korban jiwa, bahkan kerusakan sarana dan prasarana di kawasan pantai.

Baca juga: Presiden minta perbaikan alat deteksi tsunami
Baca juga: Sukabumi kekurangan alat deteksi dini tsunami
Pewarta : Feri Purnama
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2018