Bogor (ANTARA News) - Perhimpunan Advokasi Kebijakan dan Hak Asasi Manusia (PAK-HAM) Papua berharap ada dialog antara pemerintah dan pihak kompeten dengan suku Baduy yang mendiami Pegunungan Kendeng, Kabupaten Lebak, Banten, mengenai pengakuan kepercayaan yang mereka yakini.

"Selama ini kepercayaan yang dianut oleh masyarakat suku Baduy Dalam tidak diakui oleh Pemerintah. Walaupun mereka memiliki KTP, kolom agama tidak diisi," kata Badan Pengurus PAK-HAM Papua Muhammad Adam Ruh Hikmat di Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu.

Masyarakat Baduy mengenalkan agama mereka dengan Selam Sunda Wiwitan yang mereka yakini berasal dari nenek moyang mereka.

Menurut dia, pemerintah sebaiknya melakukan dialog dengan masyarakat Baduy guna mengenal lebih jauh budaya dan keyakinan mereka yang telah diajarkan secara turun-temurun dan dipertahankan hingga kini.

"Selain itu, dialog akan memberi pemahaman bagi pemerintah dan masyarakat luas mengenai nilai-nilai kearifan lokal yang seharusnya dihargai oleh kita semua," jelas Adam.

Berbagai pustaka menyebutkan bahwa orang-orang Badui termasuk suku tertua di dunia yang sampai sekarang belum tersentuh oleh pengaruh moderenisasi.

Masyarakat yang tinggal di balik gunung dan di lembah yang sulit dijangkau itu, kata dia, hidup tanpa listrik, kendaraan bermotor, dan barang-barang lainnya yang merupakan hasil perkembangan zaman.

Orang Badui memenuhi kebutuhan hidup sesuai dengan apa yang disediakan oleh alam. Oleh karena itu, mereka juga memiliki sistem nilai guna menjaga dan memelihara lingkungan, tempat mereka bergantung hidup.

"Suku Badui memiliki sistem nilai yang relatif masih utuh, sama seperti sebagian masyarakat suku di Papua. Nilai dari kedua suku ini adalah model dan modal bagi pembangunan Indonesia," kata Adam.

Belum lama ini, Direktur PAK-HAM Papua mengunjungi masyarakat Badui Dalam di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak.

"Kami akan memfasilitasi dan mediasi dengan pemerintah agar keinginan masyarakat Badui bisa direalisasikan sebagai warga Indonesia," kata Direktur PAK-HAM Matius Murib.

Dalam kunjungan itu, dia disambut oleh tetua adat Badui Dalam Kampung Cibeo Jaro Sami dan Wakil Jaro Ayah Mursid serta tetua Badui Dalam Kampung Cikawartana Jaro Nalim.

(T.KR-LWA/D007)

Pewarta: Libertina Widyamurti Ambari
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2017