Jakarta (ANTARA News) - Keberadaaan fasilitas pencampuran (blending) minyak mentah PT Pertamina (Persero) di Tanjung Uban, Bintan, Kepulauan Riau, akan mendukung upaya memperkuat kemandirian dan ketahanan energi jangka panjang.

"Upaya ini perlu diperluas dan diperbanyak minimal di lima pulau besar," kata Anggota Unsur Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN), Syamsir Abduh di Jakarta, Jumat.

Menurut Syamsir, fasilitas blending dapat memenuhi tujuan jangka pendek, yakni menghemat biaya transportasi sehingga disarankan dilakukan dekat dengan sumber bahan baku dan pasar. Selain itu dapat mengurangi biaya investasi jika memanfaatkan fasilitas yang sudah tersedia seperti dermaga, akses jalan, tanki serta lokasi jauh dari permukiman penduduk.

"Prioritas pemilihan lokasi di Tanjung Uban akan mengurangi ketergantungan kita kepada negara tetangga Singapura sehingga meningkatkan bargaining power dan kewibawaan diplomasi energi kita," kata dia.

Pertamina menargetkan pembangunan fasilitas blending Tanjung Uban berkapasitas 260 ribu kiloliter (kl) minyak selesai konstruksi pada November 2016. Fasilitas blending tersebut dapat mengurangi impor BBM hingga dua juta barel per bulan.

"Kami tengah berupaya untuk bisa blending sendiri sehingga bisa mengurangi pembelian Mogas 88," kata Senior Vice President Integrated Supply Chain (ISC) Pertamina, Daniel Purba.

Fasilitas blending ini tidak hanya untuk memproduksi Mogas 88 atau premium, melainkan juga pertalite dan pertamax. Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Pertamina memproyeksikan fasilitas ini dapat memasok bahan bakar ke pasar Asia Pasifik, seperti Myanmar dan Kamboja yang masih menggunakan Mogas 88.

Menurut Daniel, Tanjung Uban sebelumnya memiliki fasilitas terminal BBM dengan kapasitas 60.000 kl kemudian dikembangkan dengan menambah empat tangki berkapasitas masing-masing 50.000 kl sehingga totalnya setelah pembangunan menjadi 260.000 kl.

Selain itu, dermaga yang semula berkapasitas 35.000 DWT juga dikembangkan menjadi 100.000 DWT sehingga dapat menampung kapal yang lebih besar serta mengurangi biaya logistik pengangkutan.

"Pembangunan fasilitas blending agar perseroan dapat mengolah premium untuk kebutuhan dalam negeri, bahkan mengurangi impor hingga 2 juta barel per bulan," katanya.

Pengamat ketahanan energi dan pengajar geoekonomi Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhanas), Dirgo Purbo mengatakan langkah Pertamina mengembangkan fasilitas blending di Tanjung Uban merupakan bagian dari upaya pengurangan ketergantungan impor dan tentunya juga bagian dri program ketahanan energi.

"Sangat perlu (diperbanyak). Utamanya di kawasan Indonesia tengah dan timur sehingga dampaknya sangat positif terhadap cadangan devisa," ungkap dia.

Menurut Dirgo, bagi Singapura kehadiran fasilitas blending Tanjung Uban tentu berdampak signifikan. Apalagi setelah sekian tahun lamanya menikmati ekspor yang cukup besar ke Indonesia. Namun, Singapura masih akan memiliki permintaan dari lingkup negara-negara ASEAN yang relatif masih sangat tinggi.

"Tentunya ke depan bagi Indonesia, unsur-unsur yang memperkuat jaringan dari tingkat upstream sampai downstream harus lebih ditingkatkan. Karena posisi Indonesia sudah menjadi negara yang statusnya net oil importir sebesar 1,8 juta barel per hari," tandas Dirgo.

Pewarta: Faisal Yunianto
Editor: Ruslan Burhani
Copyright © ANTARA 2016