Waspada varian Omicron di tengah peningkatan COVID-19 sepekan terakhir

Waspada varian Omicron di tengah peningkatan COVID-19 sepekan terakhir

Anggota Tim Pakar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) untuk Percepatan Penanganan COVID-19 Hidayatullah Muttaqin SE, MSI, Pg.D. (ANTARA/Firman)

Banjarmasin (ANTARA) - Anggota Tim Pakar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) untuk Percepatan Penanganan COVID-19 Hidayatullah Muttaqin SE, MSI, Pg.D mengingatkan masyarakat harus waspada terhadap penyebaran varian Omicron di tengah peningkatan COVID-19 sepekan terakhir.

"Cepatnya penyebaran varian Omicron ke berbagai negara menuntut kesigapan pemerintah untuk mencegah masuknya varian berbahaya ini ke Indonesia," kata dia di Banjarmasin, Senin.

Pelarangan masuknya WNA dari negara Afrika menurut dia tidaklah cukup karena penyebarannya sudah lintas benua.

Selain skrining dan penetapan syarat masuk yang lebih ketat, pemerintah perlu lebih cepat memperlambat mobilitas penduduk yang sudah tinggi saat ini.

Baca juga: Perkuat prokes jelang libur Natal dan tahun baru

Baca juga: Norwegia berupaya perlambat penyebaran Omicron


"Jangan menunggu waktu menjelang liburan akhir tahun sebagaimana rencana kebijakan PPKM level 3 di seluruh wilayah Indonesia pada periode tersebut," tuturnya.

Terlepas persoalan varian Omicron, kasus COVID-19 di Indonesia mulai mengalami peningkatan dalam sepekan terakhir.

Muttaqin merujuk data Kementerian Kesehatan pada 21-27 November ada 2.320 kasus konfirmasi, naik 2,4 persen dibandingkan kasus yang terjadi pada periode 14-20 November.

"Ini pertama kalinya kasus COVID-19 di Indonesia mengalami kenaikan setelah dalam beberapa bulan terakhir terus menurun setiap pekannya," ujarnya.

Di samping pengetatan pintu masuk dan pengendalian mobilitas penduduk, strategi 3T (testing, tracing dan treatment), Muttaqin menekankan pentingnya edukasi dan penerapan protokol kesehatan di masyarakat diperkuat.

"Jangan sampai kita terlambat melakukan pencegahan sebagaimana keterlambatan mitigasi masuk dan menyebarnya varian Delta yang menyebabkan terjadinya gelombang kedua pada Juli lalu," ucapnya.

Perhatian dunia saat ini tertuju dengan adanya varian baru Omicron atau B.1.1.529. WHO telah memasukkan varian Omicron ini sebagai Variant of Concern (VoC) pada 26 November 2021 karena kecepatan penularannya dan kemampuannya meningkatkan risiko reinfeksi.

Sebaran varian Omicron berdasarkan data GISAID per 27 November telah mencapai 10 negara yaitu Afrika Selatan, Bostwana, Australia, Inggris, Hong Kong, Kanada, Italia, Belgia, Israel dan Austria.

Kasus terbanyak berdasarkan sampel genom varian Omicron berasal dari Afrika Selatan dengan jumlah 109 dan distribusi 72 persen sampel global.

Sementara situasi di Afrika Selatan dalam satu pekan terakhir semakin memburuk. Jumlah penduduk Afrika Selatan yang dikonfirmasi COVID-19 dalam periode 21-27 November sebanyak 29.373 kasus. Jumlah tersebut naik secara dramatis sebesar 740 persen dibandingkan banyaknya kasus yang dilaporkan sepekan sebelumnya 14-20 November.*

Baca juga: Muncul varian baru, Satgas ingatkan masyarakat perketat prokes

Baca juga: BioNTech mulai kembangkan vaksin khusus Omicron
Pewarta : Firman
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021