Staf Khusus Menteri BUMN: Jawab tuntas pertanyaan publik

Staf Khusus Menteri BUMN: Jawab tuntas pertanyaan publik

Webinar Corporate Communications Talk: “How Do State Owned Enterprises Handle The Media?" yang digelar oleh The Iconomics. ANTARA/HO-The Iconomics

Jakarta (ANTARA) - Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan transparansi informasi dibutuhkan oleh kementerian dan BUMN, dan salah satu bentuk kebijakan itu adalah menjawab secara tuntas pertanyaan publik sehingga informasi tidak menjadi liar.

"Satu hal yang kita sepakati, transparansi informasi itu dibutuhkan oleh yang namanya Kementerian dan BUMN yang ada di bawah Kementerian BUMN," kata Arya Sinulingga dalam Webinar Corporate Communications Talk: “How Do State Owned Enterprises Handle The Media?" yang digelar oleh The Iconomics.

"Dan bentuk transparansi, langkah-langkah kebijakan yang dilakukan oleh Kementerian BUMN, serta hal-hal yang menjadi pertanyaan publik harus disampaikan dan dijawab secara tuntas, sehingga informasi tidak menjadi liar dan tidak menjadi isu yang tidak baik," katanya menambahkan.

Siaran pers The Iconomics di Jakarta, Minggu, menjelaskan acara secara virtual itu selain menghadirkan Arya Sinulingga, juga Corporate Secretary Bank BRI & Ketua Umum Forum Humas BUMN Aestika Oryza Gunarto, Wakil Ketua Umum III PERHUMAS Boy Kelana Soebroto, dan Wakil Pemimpin Redaksi Harian KOMPAS Tri Agung Kristanto dan di Moderatori oleh Pemimpin Redaksi The Iconomics Arif Hatta.

Arya mengatakan, strategi penyampaian informasi di Kementerian BUMN tidak pernah menghindari media karena itu merupakan kesalahan besar. Semua harus punya hubungan yang erat dengan media, karena era sekarang adalah era media sosial.

"Kita harus masuk seluruh saluran yang ada, makanya kita masuk ke Twitter, Instagram, Facebook, bahkan Tiktok kita manfaatkan untuk penyaluran informasi kepada publik," katanya.

Arya mengatakan, dalam adaptasi teknologi mau tidak mau seorang corporate communication perusahaan BUMN harus beradaptasi dengan platform teknologi yang berkembang saat ini.

Langkah lain dalam menjalin hubungan dengan media adalah dengan sering mengadakan forum atau menciptakan wadah komunikasi dengan media secara intens karena kunci dari komunikasi Kementerian BUMN adalah keterbukaan informasi kepada publik, katanya.

Sementara Corsec BRI Aestika Oryza Gunarto menyampaikan bahwa strategi komunikasi yang dilakukan oleh Bank BRI dalam berkomunikasi dan menjalin hubungan dengan media adalah keharusan dalam memahami substansi dan narasi yang mesti dilakukan dalam menyampaikan pesan dan menjawab pertanyaan dari media.

Ia menyampaikan tiga kiat yang ditekankan oleh Corporate Communication Bank BRI, yakni harus selalu menjawab pertanyaan dari media dengan relevan, informatif, dan dengan narasi yang kuat.

Kedua, Corcomm Bank BRI melakukan pendekatan personal dengan awak media melalui berbagai macam acara seperti gathering, olahraga bersama, media visit, dan selalu berusaha ikut meningkatkan mutu jurnalistik di Indonesia melalui berbagai cara seperti pemberian beasiswa, pemberian penghargaan melalui ajang kompetisi jurnalistik.

Dan ketiga, menerapkan komunikasi yang luwes dengan para stakeholder.

Wakil Ketua III Perhumas Boy Kelana Soebroto menyampaikan Era Next Normal menuntut seorang praktisi PR dan Corcomm untuk adaptif memanfaatkan transformasi digital.

Menurut dia, seorang PR harus adaptif mengkomunikasikan informasi kepada audiens dengan mengadopsi teknologi dalam menyampaikan informasi kepada publik.

Dikatakannya, seorang praktisi PR/Corcomm harus aktif dengan teman-teman media baik itu jurnalis, editor, pimpinan redaksi, bahkan dengan institusi sehingga hubungan baik dengan media terus dibangun, sehingga informasi itu tidak ada yang mis-interpretasi.

Dari pandangan sisi praktisi media, Tri Agung Kristianto mengatakan bedanya media arus utama dengan media sosial dan new media adalah media-media arus utama bermain di ranah manusia.

Media arus utama bermain di ranah kaki (lapangan) untuk membuktikan faktanya, kemudian dari lapangan yang didapatkan diolah dengan otak. Perpaduan ini menghasilkan satu nilai yang tidak mungkin dimiliki oleh media sosial atau media percakapan bahkan mungkin oleh jurnalisme warga yaitu nilai moralitas.

Menurut dia, sebuah media arus utama terikat dengan moralitas dan karena itu dia tidak bisa sembarangan membuat berita dan mendistribusikan informasi yang dimiliki.

Wartawan tidak boleh bohong karena ada kode etik jurnalistik, ada 10 elemen jurnalisme yang mengendalikannya, ada undang-undang pers, ada begitu banyak aturan termasuk aturan internasional yang kemudian membuat seorang wartawan itu bekerja di ranah kemanusiaan, dengan kaki, otak, dan moralitasnya, katanya.

Baca juga: The Iconomics gelar Indonesia Best Financial Brands Awards 2021

Baca juga: Apresiasi kepada BUMN kembali digelar dalam Indonesia BUMN Awards 2021

Baca juga: Iconomics apresiasi perbankan lewat Indonesia Top 40 Bank Awards 2021
Pewarta : Ahmad Buchori
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021