Pakar: Gelombang ketiga bisa dihindari bila vaksinasi maksimal

Pakar: Gelombang ketiga bisa dihindari bila vaksinasi maksimal

Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin kepada seorang warga pada Vaksinasi COVID-19 di Markas Palang Merah Indonesia (PMI) Sulawesi Tengah di Palu, Rabu (22/9/2021). Selain melaksanakan donor darah massal, peringatan HUT ke-76 PMI di Palu juga dilakukan dengan menggelar vaksinasi COVID-19 massal bagi masyarakat umum. ANTARA/Basri Marzuki.

Jakarta (ANTARA) - Pakar epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Iwan Ariawan mengatakan Indonesia bisa menghindari gelombang ketiga COVID-19 bila cakupan vaksinasi maksimal.

"Untuk memenuhi target vaksinasi 70 persen penduduk pada akhir 2021, perlu dukungan penuh dari masyarakat," kata Iwan Ariawan di Jakarta, Selasa.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI total sasaran vaksinasi COVID-19 nasional sebanyak 208.265.720 orang. Sedangkan vaksinasi dosis pertama hingga Senin (22/11) pukul 18.00 WIB sudah mencapai 135.087.931. Vaksinasi dosis kedua sudah mencapai 89.892.161.

"Jika masyarakat yang divaksin terus bertambah, Indonesia kemungkinan bisa menghindari gelombang ketiga," katanya.

Baca juga: Epidemiolog: Prokes mesti diperketat antisipasi lonjakan COVID-19

Baca juga: Kemenkes jaga kasus COVID-19 tidak meningkat saat libur Natal


Selain vaksinasi, kata Iwan, banyak orang yang sudah memiliki antibodi COVID-19 secara alami karena pernah terinfeksi. "Kenaikan kasus tidak setinggi saat libur Natal atau Idul Fitri lalu (tahun 2020)," katanya.

Iwan mengatakan cakupan vaksinasi seluruh penduduk harus diusahakan supaya Indonesia bisa segera mengubah epidemi COVID-19 menjadi fase endemi.

Menurutnya salah satu penyebab sebagian masyarakat masih enggan mengikuti vaksinasi karena terpapar hoaks terkait efek samping dan manfaat vaksin.

Menurut dia melawan hoaks harus dengan strategi tepat. Dia juga melihat ada sebagian masyarakat yang memang antivaksin, namun jumlahnya tidak banyak.

"Tidak bisa hanya mengandalkan tenaga kesehatan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat yang antivaksin atau tidak percaya vaksin. Harus orang yang sesuai, yang didengarkan oleh orang-orang yang percaya hoaks tersebut," katanya.

Secara terpisah Guru Besar Sosiologi Universitas Gajah Mada (UGM) Sunyoto Usman menilai tidak mudah bagi orang awam untuk memahami bahaya virus COVID-19. "Baru ketahuan dampak negatifnya setelah ada yang terpapar," katanya.

Menurut Sunyoto perlu literasi mengenai COVID-19 dari pemerintah, tokoh masyarakat, sekolah, kampus, media massa, hingga ormas untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat yang antivaksin atau mereka yang percaya hoaks.

Baca juga: Satgas: Indonesia siap menuju endemi bila kasus di lima provinsi turun

Baca juga: Ekonom berikan skenario bila Indonesia bertransisi pandemi ke endemi


#ingatpesanibu
#sudahdivaksintetap3M
#vaksinmelindungikitasemua
 
Pewarta : Andi Firdaus
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021