Nila Moeloek: Kasus COVID-19 melandai, harapan baru tanggulangi TBC

Nila Moeloek: Kasus COVID-19 melandai, harapan baru tanggulangi TBC

Mantan Menteri Kesehatan Nila Moeloek. ANTARA/Muhammad Zulfikar/pri.

Jakarta (ANTARA) - Situasi pandemi COVID-19 yang kian surut di Tanah Air menjadi harapan baru bagi penanggulangan tuberkulosis (TBC) yang semakin intensif kata mantan Menteri Kesehatan RI Nila F Moeloek.

"Menurunnya kasus COVID-19 harusnya memberikan harapan baru dalam percepatan penanggulangan TBC," kata Nila F Moeloek dalam webinar virtual bertajuk "TBC di Indonesia di Masa Pandemi COVID-19 dan Pasca-Pandemi COVID-19" melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin.

Nila mengatakan pandemi COVID-19 memperberat upaya penanggulangan TBC di Indonesia. Tapi saat ini angka kasus mulai melandai dan menjadi kesempatan untuk mempercepat penanggulangan TBC.

Nila mengatakan pandemi menyebabkan keterbatasan ruang gerak pasien maupun tenaga kesehatan serta kader kesehatan. Akibatnya, program percepatan penanggulangan TBC di Indonesia sangat menurun drastis dibandingkan sebelum pandemi.

COVID-19 dan TBC, kata Nila, merupakan penyakit yang memiliki kesamaan gejala yakni batuk, demam, kesulitan pernapasan, dan menyerang paru-paru. Pengalaman dalam perqawatan pasien TBC yang terinfeksi COVID-19 pun masih terbatas, sehingga mereka memiliki hasil pengobatan yang kurang optimal jika pengobatan TBC terganggu.

Sebelum ada COVID-19, program percepatan penanggulangan TBC bisa tinggal landas di tahun 2020 menuju stop TBC di tahun 2030.

Baca juga: Menko PMK khawatirkan tingginya kasus TBC berisiko tulari anak-anak

Baca juga: COVID sebabkan banyak kematian TBC, AIDS di negara miskin


Ahli Paru yang juga Mantan Direktur World Health Organization (WHO) Asia Tenggara Tjandra Yoga Aditama mengatakan para pakar TBC melaporkan program TBC bisa mundur lima sampai delapan tahun akibat COVID-19.

Pada Januari 2021, kata Tjandra, WHO mengumpulkan data dari 84 negara yang menyatakan bahwa COVID-19 mengakibatkan tambahan kematian di dunia 1,5 juta orang.

Menurut Tjandra selama sepuluh tahun angka kematian TBC terus turun walaupun turunnya tidak tajam, tapi di 2020 mengalami kenaikan untuk pertama kalinya. Sementara untuk kasus TBC yang ditemukan terjadi penurunan yang biasanya selalu naik, yakni di 2020 sebanyak 5,8 juta orang yang mengalami TBC, menurun 18 persen jika dibandingkan 2019 yang penemuan kasus mencapai 7, 1 juta orang.

"Angka kematian akibat TBC tadinya memang selalu menurun tapi turunnya sedikit, tapi sekarang kematian bahkan bertambah 1,5 juta di tahun 2020. Ini data bulan Desember saya kira dipublikasi Januari 2021," katanya.

Di Indonesia, ada sekitar 845 ribu kasus TBC dari 271 juta penduduk, dengan rata-rata kematian mencapai 96 ribu kasus.

Sejumlah Analisa dari SEA Regional WHO menyebutkan penyebab dari terhambatnya percepatan penanggulangan TBC adalah tidak optimalnya penemuan kasus terutama di daerah-daerah karena khawatir tertular COVID-19, laboratorium sibuk menangani COVID-19 sehingga berkurang dalam menangani TBC.

Selanjutnya, ketersediaan obat di beberapa tempat bermasalah. Perawatan dan monitoring pasien TBC terhambat karena pasien tidak berani datang ke fasilitas kesehatan.

Sebagai contoh, program TBC di provinsi Jawa Barat selama pandemi mengalami hambatan. Kekurangan suplai masker N95 dan sarung tangan untuk tenaga kesehatan, dan itu pun tidak semua kabupaten/kota memiliki jumlah persediaan yang banyak.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Nina Susana Dewi menilai situasi itu membuktikan kemampuan kabupaten/kota dalam menghadapi wabah dan melanjutkan program TBC belum cukup. Terlebih lagi pandemi COVID-19 merupakan penyakit baru dan belum punya pengalaman dalam mengatasinya.

Tidak hanya itu, kapasitas rawat inap untuk pasien TBC mengalami kekurangan dikarenakan ruang isolasi di beberapa rumah sakit rujukan TBC digunakan untuk perawatan pasien COVID-19.

“Fasilitas kesehatan juga membatasi layanan kontak langsung dengan pasien, kemudian jumlah kunjungan terduga TBC ke faskes berkurang karena kekhawatiran masyarakat tertular COVID-19,” katanya.

Dalam menanggulangi masalah tersebut, kata Nina, harus dilakukan upaya yang komprehensif agar TBC dan COVID-19 bisa ditanggulangi bersama-sama.

Tjandra menyebut ada beberapa solusi terkait gagasan itu, antara lain melakukan testing, tracing, surveilans, kontrol dan pencegahan infeksi dan komunikasi risiko.

"Kita mesti ingat bahwa masalah kesehatan bukan hanya TBC ada juga masalah lain yang perlu ditanggulangi bersama-sama. Kita punya program yang ada di depan mata, barangnya sudah ada, cara diagnosisnya sudah jelas, cara pengobatannya sudah jelas, marilah kita sama-sama dalam melakukan upaya agar TBC ini bisa kita kendalikan di waktu mendatang," katanya.

Baca juga: Kemenkes terapkan strategi khusus penanganan TBC di tengah COVID-19

Baca juga: TBC juga mematikan seperti COVID-19

 
Pewarta : Andi Firdaus
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021