Pemkab Cianjur siapkan Rp20 miliar bayar insentif nakes

Pemkab Cianjur siapkan Rp20 miliar bayar insentif nakes

Bupati Cianjur, Jawa Barat, Herman Suherman. ANTARA/Ahmad Fikri

Cianjur (ANTARA) - Pemkab Cianjur, Jawa Barat, menyiapkan dana Rp20 miliar untuk pembayaran insentif ratusan tenaga kesehatan di puskesmas yang belum menerima haknya sejak empat bulan terakhir.

Bupati Cianjur, Herman Suherman di Cianjur, Kamis  mengatakan pihaknya sudah membahas bersama dinas terkait untuk pembayaran insentif nakes dapat dilakukan pertengah November 2021, baik di puskesmas atau rumah sakit yang belum terbayarkan selama empat bulan terakhir.

"Kami sudah perintahkan untuk segera dibayarkan, pemerintah daerah sudah menganggarkan Rp20 miliar untuk Inakes tersebut. Kami berharap upaya keras nakes untuk mengejar persentase dapat lebih maksimal, setelah menerima insentif," katanya.

Sekretaris Dinas Kesehatan Cianjur, Irvan Nur Fauzi, mengatakan pembayaran insentif nakes untuk rumah sakit dilakukan masing-masing rumah sakit. Sedangkan dinkes hanya mengkoordinir nakes yang bertugas di puskesmas, hingga saat ini, nakes puskesmas belum menerima insentif sejak bulan Juli.

"Untuk nakes puskesmas yang belum dibayar dari Juli sampai Oktober, totalnya lebih dari 900 orang nakes. Rencana pemerintah akan membayarkan insentif nakes pertengahan bulan atau tanggal 16 November 2021," katanya.

Ia menutrukan, pemberian insentif tersebut akan dilakukan secara simbolis oleh Bupati Cianjur, sebagai upaya mempercepat pencairan karena semua pihak yang terlibat seperti puskesmas, dinkes, rumah sakit, DPKAD dan Inspektorat, bersama-sama melaksanakan tugasnya.

"Untuk masing-masing tenaga kesehatan di puskesmas besarannya sekitar Rp5 juta per orang, nanti akan diserahkan secara simbolis oleh Bupati Cianjur didampingi dinas dan instansi terkait," katanya.

Sebelumnya, ratusan orang tenaga kesehatan di seluruh puskesmas di Cianjur, mengeluh karena belum menerima insentif sejak bulan Juli hingga Oktober dari pemerintah. Meski mereka hingga saat ini, masih terlibat sebagai garda terdepan dalam penanganan pendamemi, termasuk mengencarkan vaksinasi.

"Kalau dibilang mengeluh kita pasti mengeluh karena setiap pembayaran kita selalu terlambat. Tapi disisi lain kita juga bersyukur sudah dapat insnetif. Namun kami berharap mendapat prioritas, terlebih saat ini, kami tidak punya hari libur karena harus mengejar target vaksinasi," kata tenaga kesehatan puskemas yang minta namanya dirahasiakan.

Senada dengan nakes di rumah sakit Cianjur, mengaku terakhir mendapatkan insentif dari penanganan pasien COVID-19, bulan Juni, sedangkan insentif selama empat bulan mulai dari Juli hingga Oktober, belum juga cair, sehingga banyak dari mereka terpaksa menghutang.

"Kalau tidak salah dengar katanya Rp7 juta per orang, namun selama empat bulan terakhir belum kami terima. Kalau yang menghutang banyak dengan harapan dapat membayar dari insentif," kata nakes yang juga minta namanya dirahasiakan.
Baca juga: Pemerintah tidak jadi menarik kembali kelebihan insentif nakes
Baca juga: BPK temukan kelebihan pembayaran insentif 8.961 tenaga kesehatan
Baca juga: Menkes: Dobel insentif nakes akibat transisi ke pembayaran langsung
Pewarta : Ahmad Fikri
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2021