Kepala BKKBN dorong penguatan Pancasila untuk cegah konflik keluarga

Kepala BKKBN dorong penguatan Pancasila untuk cegah konflik keluarga

Tangkapan layar ketika Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo menyampaikan pidato kunci dalam seminar nasional bertajuk “Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Membangun Keluarga Indonesia yang Berkarakter Pancasila” yang disiarkan secara langsung di kanal YouTube BPIP RI, Rabu (27/10/2021). ANTARA/Putu Indah Savitri

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mendorong penguatan implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berkeluarga untuk mencegah konflik, terutama perceraian.

"Betapa kita sedih ketika di dalam keluarga tidak ada toleransi, sehingga permasalahan dipakai sebagai dasar perceraian," kata Hasto Wardoyo ketika menyampaikan pidato kunci dalam seminar nasional bertajuk "Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Membangun Keluarga Indonesia yang Berkarakter Pancasila" yang disiarkan secara langsung di kanal YouTube BPIP RI, Rabu.

Dalam paparannya, Hasto menampilkan data yang diolah dari Statistik Indonesia 2016, 2017, 2019. Data tersebut menunjukkan bahwa terdapat peningkatan perceraian yang signifikan pada tahun 2017 menuju 2018, yakni dari 374.516 perceraian pada 2017, menjadi 408.202 perceraian pada 2018.

Selain itu, berdasarkan pemberitaan sebelumnya, Direktur Jenderal Badan Peradilan Agama Mahkamah Agung Aco Nur juga mengatakan bahwa terdapat peningkatan kasus perceraian di masa pandemi COVID-19.

Bagi Hasto, jumlah perceraian di Indonesia dapat ditekan dengan cara meningkatkan toleransi antara setiap anggota keluarga, khususnya suami dan istri.

Baca juga: BKKBN: Keluarga berkualitas kunci sukses Indonesia Emas 2045

Baca juga: BKKBN: Stunting turun tingkatkan kualitas generasi muda Indonesia


Hasto berpendapat bahwa jika suami dan istri saling memberi toleransi atas kekurangan masing-masing, kemudian melakukan musyawarah dan bermufakat untuk membangun suatu rumah tangga, maka jumlah perceraian di Indonesia dapat mengalami penurunan.

"Jika mengamalkan nilai-nilai Pancasila di rumah tangga, tentu perceraian tidak akan banyak," tutur dia.

Oleh karena itu, ia mengatakan bahwa kondisi pandemi COVID-19 dan pesatnya kemajuan teknologi merupakan tantangan bagi Pancasila untuk dapat hadir di tengah-tengah keluarga dan menyelesaikan berbagai masalah.

Kemajuan teknologi mengakibatkan masing-masing anggota keluarga semakin individualistik dan menghilangkan budaya gotong royong. Selain itu, kemajuan teknologi juga meningkatkan hedonisme dan memunculkan kapitalisme baru.

"Itu semua merupakan bagian dari penyimpangan-penyimpangan yang, kalau menurut saya, harus kita bersama-sama mengkalibrasi, supaya kita kembali ke nilai-nilai Pancasila yang menyejukkan di dalam kehidupan keluarga," ujar Hasto.
Pewarta : Putu Indah Savitri
Editor: Chandra Hamdani Noor
COPYRIGHT © ANTARA 2021