Pemadaman listrik dan semi "lockdown" demi kendalikan kasus COVID-19

Pemadaman listrik dan semi

Tangkapan layar - Bupati Kudus, H.M. Hartopo di sela sebuah diskusi yang digelar daring, Senin (25/10/2021). (ANTARA/Lia Wanadriani Santosa)

Jakarta (ANTARA) - Pemadaman listrik dan pembatasan mobilitas masyarakat melalui kebijakan semi lockdown menjadi bagian dari strategi pemerintah Kudus dalam mengendalikan kasus COVID-19, menurut Bupati Kudus, H.M. Hartopo. 

“Di dalam penanganan, kami mengadakan semi lockdown, pembatasan di kabupaten. Kami juga mengadakan pengetatan dan (pemeriksaan) antigen secara random. Setiap orang yang masuk Kudus harus bebas COVID-19,” kata dia dalam sebuah diskusi yang digelar secara daring, Senin.

Hartopo mengatakan, pemerintah juga melakukan pemadaman listrik mulai sore hari demi membatasi mobilitas warga. Selain itu, diberlakukan aturan tidak boleh makan di restoran dan pembatasan jam operasional restoran pada pukul 20.00.

Baca juga: Pemerintah siapkan dua strategi pengendalian COVID-19 untuk PTM

Terkait pengetatan mobilitas warga, digencarkan hingga ke tingkat rukun tetangga (RT). Pejabat RT diberdayakan demi penanganan kasus dari hulu lebih maksimal. Hartopo yang juga menjabat sebagai ketua RT di kawasan tinggalnya meminta aparat RT berkolaborasi dengan satuan tugas atau disebut jogo tonggo.

“Sekretaris RT keliling supaya tahu orang yang kira-kira terkonfirmasi. Bendahara RT kami minta mengumpulkan donasi. Di setiap desa menargetkan ada (tempat) isolasi mandiri, bisa membantu orang isolasi mandiri di desa,” kata Hartopo.

Selain pengetatan mobilitas warga, vaksinasi juga digencarkan dan diakselarasi. Hartopo bekerja sama dengan pihak swasta, universitas berupaya memfasilitasi tempat vaksinasi dan vaksinator.

Di sisi lain, edukasi masyarakat terkait vaksin khususnya AstraZeneca dan Moderna pun tak dilupakan, mengingat masih adanya ketakutan pada vaksin dan menolak divaksin. Hartopo mengatakan, ketakutan ini berasal dari adanya risiko munculnya Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang menurut sebagian orang menyebabkan tubuh mengigil setidaknya selama 2-3 hari.

“AstraZeneca banyak yang menolaknya, maka perlu ada edukasi pada masyarakat. Dari pemerintah sampai tingkat RT perlu memberikan sosialisasi dan edukasi supaya masyarakat tidak terlalu takut,” demikian papar dia.

Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, sempat tercatat mengalami lonjakan kasus COVID-19 usai Lebaran 2021. Data Satgas Penanganan COVID-19 menunjukkan, jumlah kasus positif di wilayah itu pernah naik hingga 30 kali lipat dalam waktu sepekan.

Baca juga: Pemerintah susun strategi cegah lonjakan kasus saat libur akhir tahun

Baca juga: Epidemiolog: Penurunan kasus aktif bukti vaksin efektif dan aman

Baca juga: Enam strategi pemerintah antisipasi gelombang tiga COVID-19
Pewarta : Lia Wanadriani Santosa
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021