Ketua DPD: Kontribusi nyata Unusa sangat ditunggu

Ketua DPD: Kontribusi nyata Unusa sangat ditunggu

Ketua DPD RI saat menghadiri pengukuhan Profesor. Dr. Mulyadi, dr, Sp.P(K), FISR sebagai Guru Besar di bidang Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Sabtu (15/10) (ANTARA/HO-DPD RI)

Surabaya (ANTARA) - Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti  menghadiri pengukuhan Profesor Dr Mulyadi, dr, Sp.P(K), FISR sebagai Guru Besar bidang Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Sabtu.

Ia berharap Unusa memberi kontribusi nyata dalam membangun ketahanan sektor kesehatan, melalui Fakultas Kedokteran, Fakultas Kesehatan dan Fakultas Kebidanan serta Perawat.

"Saya ucapkan selamat kepada Profesor Mulyadi, yang hari ini dikukuhkan sebagai Guru Besar di bidang Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Unusa. Semoga ilmu dan keahlian yang dimiliki dapat bermanfaat bagi Nusa dan Bangsa," kata LaNyalla.

Baca juga: Dubes India tawarkan kerja sama dengan Unusa

Senator asal Jawa Timur itu mengakui bahwa di masa pandemi sektor kesehatan menjadi garda terdepan, apalagi ilmu Pulmonologi yang merupakan salah satu ilmu kedokteran yang fokus menangani gangguan pada sistem pernapasan, seperti COVID-19.

Ia mengatakan saat ledakan korban COVID-19, beberapa waktu lalu, rumah sakit  kewalahan, tenaga medis, fasilitas kesehatan dan alat medis sangat kurang.

Selain itu, kata dia, industri alat kesehatan Indonesia masih didominasi produk impor. Di sisi lain, karya-karya anak bangsa yang memproduksi alat pendukung medis belum diakui seperti ventilator sampai vaksin.

Baca juga: Mahasiwa Unusa diharapkan Wapres jadi agen perubahan

"Oleh karena itu, semoga kehadiran Profesor Mulyadi sebagai Guru Besar di Unusa, dapat semakin memberi kontribusi nyata bagi perbaikan negeri ini ke depan," lanjutnya.

Sementara itu, Prof Dr Mulyadi, dr SpP(K) FISR, dalam pidatonya mengatakan dampak pandemi bagi dunia akademik kedokteran menjadi sebuah mimpi buruk, sebab praktik langsung tidak bisa dilakukan dalam pendidikan kedokteran, karena adanya batasan-batasan.

"Padahal untuk menghasilkan gladiator atau petarung-petarung yang terjun ke medan perang perlu praktik dan belajar secara langsung. Tidak ada guru yang lebih baik tanpa secara langsung menangani pasien. Makanya pendidikan kedokteran secara daring adalah tidak mungkin. Tapi di kondisi pandemi ini menjadi dilema. Untunglah saat ini sudah sudah bisa dilakukan pelajaran secara langsung meski terbatas," katanya.

Baca juga: LaNyalla : Lomba foto "Jatim Bangkit" menginspirasi anak muda

Dalam kesempatan itu, Prof Mulyadi juga berterima kasih kepada LaNyalla yang selalu memberi semangat, selalu mengingatkan untuk Shalat Tahajud dan Dhuha, serta mengingatkan pentingnya ikhtiar dan doa.

"Saya juga mengingat orang tua Pak LaNyalla, Bapak Mahmud Mattalitti. Tahun 1981 saat saya datang pertama kali ke Surabaya, kuliah di Unair, saya bertemu beliau. Saya sebagai anak dari desa terpencil di Aceh Selatan diberi nasihat yang membuat saya kuat dan berdiri sampai sekarang," katanya.

Baca juga: Ketua DPD RI apresiasi vaksinasi masyarakat adat Suku Badui

"Beliau mengatakan laki-laki tidak boleh takut, harus jadi pemberani dan tidak boleh ragu-ragu. Itu sebagai modal untuk keberhasilan nanti. Dan benar apa yang dikatakan tersebut. Terbukti saya bisa mencapai posisi seperti sekarang. Alhamdulillah," lanjut Prof Mulyadi.

Dalam acara itu, hadir juga Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar, Ketua Yayasan Unusa Profesor Muhammad Nuh, Rektor Unusa Profesor Achmad Jazidie dan para anggota Senat Terbuka dan Sivitas Akademika Unusa.

Baca juga: Ketua DPD siap fasilitasi Forum Honorer PGRI Jember

Pewarta : A Malik Ibrahim
Editor: Agus Salim
COPYRIGHT © ANTARA 2021