Anak yatim piatu akibat pandemi rentan malnutrisi

Anak yatim piatu akibat pandemi rentan malnutrisi

Advocacy Coordinator and Child Protection Specialist SOS Children's Villages Indonesia Tri Dewi Saraswati. ANTARA/ Anita Permata Dewi

Jakarta (ANTARA) - Tri Dewi Saraswati selaku Advocacy Coordinator and Child Protection Specialist SOS Children’s Villages Indonesia, mengatakan anak-anak yang ditinggal orang tuanya akibat COVID-19 rentan mengalami malnutrisi bila diasuh oleh pengasuh yang tidak memiliki penghasilan.

SOS Children’s Villages Indonesia sebagai organisasi yang bergerak pada bidang pengasuhan alternatif berbasis keluarga (PABK) bergerak untuk memenuhi hak-hak anak Indonesia yang kehilangan orang tua karena Covid-19.

"Saat ini belum nampak adanya anak-anak yang malnutrisi tapi sangat berisiko (terjadinya malnutrisi) bagi anak-anak yang tinggal dengan pengasuh yang tidak punya penghasilan sama sekali atau tidak berpenghasilan tetap," kata Dewi Saraswati dalam webinar bertajuk "Bersatu dan Bergerak #BersamaUntukAnak yang Kehilangan Orang Tua Akibat COVID-19" yang diikuti di Jakarta, Kamis.

Hal itu diketahui dari hasil riset yang diselenggarakan SOS Children's Villages Indonesia di Semarang, Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta.

Para responden dalam riset tersebut menyatakan tidak ada perubahan kualitas makanan yang disajikan tapi ada perubahan kuantitas makanan karena bertambahnya anggota keluarga.
Baca juga: Bamsoet minta pemerintah pastikan anak kehilangan orangtua terlindungi
Baca juga: Mensos garap konsep penanganan anak yatim korban pandemi COVID-19


Pasca orang tua mereka wafat, anak-anak ini kemudian diasuh kakek neneknya atau paman bibi atau pakde bude atau kakaknya maupun ada yang tinggal sendiri.

Untuk anak-anak yang diasuh kakek nenek, keadaannya banyak yang memprihatinkan karena sebelumnya kakek nenek mengandalkan orang tua si anak untuk kehidupan sehingga pasca orang tua si anak meninggal, mereka mengandalkan kiriman makanan atau uang dari tetangga atau keluarga sekitar.

Risetnya menyebut bahwa 61 persen pengasuh tidak memiliki penghasilan tetap, hanya 39 persen pengasuh yang penghasilannya stabil.

Sebagian responden juga mengaku bahwa mereka tidak siap secara ekonomi maupun mental untuk mengasuh anak-anak tersebut. "Ada pengasuh yang mengatakan kami tidak siap secara ekonomi. Ada juga yang mengatakan secara ekonomi dan mental, kami tidak siap," katanya.

Kemudian bagi anak yang tinggal dengan kakak juga rentan mengalami malnutrisi. "Anak yang tinggal bersama kakaknya yang selisih usianya tidak jauh, kakaknya sibuk cari nafkah untuk adiknya, kemungkinan kedepannya akan ada malnutrisi," tutur Dewi.
Baca juga: INSA beri santunan kepada 250 anak yatim terdampak pandemi COVID-19
Baca juga: Menko PMK: Saling eratkan persaudaraan di masa pandemi COVID-19
Pewarta : Anita Permata Dewi
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2021