Akademisi: Gotong-royong modal sosial Indonesia lawan COVID-19

Akademisi: Gotong-royong modal sosial Indonesia lawan COVID-19

Komunitas Badut Tasikmalaya (Battik) mengenakan masker ke siswa saat sosialisasi protokol kesehatan pada pembelajaran tatap muka SD Negeri Dadaha, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin (27/9/2021). ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/pras. (ANTARA FOTO/ADENG BUSTOMI)

Jakarta (ANTARA) - Ketua Laboratorium Intervensi Sosial dan Krisis, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), Dicky Chresthover Pelupessy mengatakan gotong royong menjadi modal sosial bangsa Indonesia dapat melawan COVID-19.

"Modal sosial kita dikenal masyarakat kolektif dan memiliki keguyuban, kita punya budaya gotong-royong. Secara mendasar punya modalnya," ujar Dicky dalam gelar wicara “Waspada Gelombang Ketiga: Bijak Bepergian Cegah Penularan” secara daring diikuti dari Jakarta, Selasa.

Baca juga: Akademisi: Prokes masa pandemi harus dilihat sebagai investasi sehat

Dengan modal tersebut, menurut Dicky, tinggal bagaimana budaya tersebut direvitalisasi di masa pandemi dan terus menerus diingatkan.

Kuncinya adalah jika ingin melewati pandemi dengan selamat, protokol kesehatan harus dilakukan secara bersama-sama agar merasakan manfaat dan keuntungannya.

"Pesan tersebut harus diteruskan kepada masyarakat, komunitas, dan sekolah," ujar dia.

Dicky menilai protokol kesehatan akan efektif jika dilakukan bersama-sama, bukan hanya dilakukan oleh seseorang saja atau di level individu, tetapi juga kolektif.

Dicky tidak mengingkari ada kecenderungan yang manusiawi bahwa penduduk akan melakukan revenge traveling traveling atau jalan-jalan balas dendam akibat pembatasan gerak.

Baca juga: Sekolah di Yogyakarta tak kesulitan terapkan disiplin prokes saat PTM

Baca juga: Yogyakarta perketat prokes di luar kelas antisipasi klaster PTM


Oleh karenanya, penanganan pandemi tidak hanya dari level kesadaran individu saja, melainkan harus ada upaya pengawasan, pemantauan dan penegakan. Contohnya, menggunakan aplikasi PeduliLindungi untuk bepergian.

"Harus ada faktor eksternal, lingkungan dan penegakan, itu jadi acuan, baik memanfaatkan teknologi, Satgas, maupun pengelola tempat orang berkumpul, yang menjadi penegakan," ujar dia.
 
Pewarta : Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021