BKKBN menggerakkan mahasiswa untuk mendukung penurunan kasus stunting

BKKBN menggerakkan mahasiswa untuk mendukung penurunan kasus stunting

Arsip Foto. Warga membawa anak mereka untuk mendapatkan imunisasi di posyandu di Kota Banda Aceh, Provinsi Aceh, Kamis (8/7/2021. Kegiatan posyandu antara lain mencakup pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak serta penyuluhan gizi untuk mencegah kasus stunting. (ANTARA FOTO / Irwansyah Putra/foc)

Jakarta (ANTARA) - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) meluncurkan Program Mahasiswa Peduli Stunting untuk menggerakkan mahasiswa mendukung upaya penurunan kasus stunting, kekurangan gizi kronis yang mengganggu pertumbuhan anak sehingga badannya lebih pendek dibandingkan anak-anak seusianya.

"Stunting ini adalah masalah yang menjadikan suatu gangguan dan hambatan ketika kita ingin menuju Indonesia emas tahun 2045,” kata Kepala BKKBN Hasto Wardoyo pada peluncuran Program Mahasiswa Peduli Stunting (Penting) yang diikuti melalui kanal YouTube BKKBN Official dari Jakarta, Jumat.

Stunting dapat terjadi apabila pada 1.000 hari kehidupan pertama (HPK) bayi mengalami kondisi kesehatan yang tidak optimal atau kondisi gizi yang tidak optimal sehingga tidak bisa tumbuh dan berkembang optimal serta rentan terkena penyakit.

Masalah stunting akan mempengaruhi kualitas sumber daya manusia pada masa mendatang, karenanya pemerintah berusaha mencegah dan mengatasinya.

"Sayangnya pemahaman tentang stunting masih rendah,” kata Hasto.

Program Mahasiswa Peduli Stunting, Hasto mengatakan, dimaksudkan untuk mendukung upaya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pemenuhan kebutuhan gizi serta pencegahan dan penanganan stunting.

Mahasiswa yang terlibat dalam program tersebut diharapkan bisa menyampaikan informasi mengenai pemenuhan kebutuhan gizi serta pencegahan stunting kepada masyarakat.

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Agus Suprapto mengatakan bahwa pandemi COVID-19 telah menyebabkan angka kemiskinan naik dan menimbulkan tantangan baru dalam upaya penanganan masalah gizi pada anak.

"Kita harus terus berjuang keras mengatasi TBC dan stunting, kita tidak boleh menyerah di situasi pandemi, sehingga semua harus bergerak bersama sama," katanya.

Menurut dia, para mahasiswa bisa mendukung upaya pencegahan dan penanganan stunting di wilayah yang angka kasusnya masih tinggi seperti Provinsi Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Aris Junaidi menjelaskan, Program Mahasiswa Peduli Stunting dijalankan melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata tematik, yang secara reguler dilaksanakan dalam Program Kampus Merdeka.

“Program Mahasiswa Penting ini sangat sejalan dengan esensi Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka yang digerakkan oleh mahasiswa, bentuk konkret Tri Dharma perguruan tinggi dalam memberikan solusi atas permasalahan di masyarakat,” kata Aris.

Baca juga:
BKKBN ingin menajamkan intervensi dari hulu untuk cegah stunting
BKKBN cegah stunting dengan memberikan pendampingan pada ibu hamil

Pewarta : Hreeloita Dharma Shanti
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2021