Apindo Lampung berharap tren positif pertumbuhan ekonomi terjaga

Apindo Lampung berharap tren positif pertumbuhan ekonomi terjaga

Ketua Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Lampung Ary Meizari Alfian (ANTARA/HO)

Bandarlampung (ANTARA) - "Kami tentu berharap besar agar pemerintah mampu mempertahankan minimal menjaga tren positif pertumbuhan ekonomi agar tak makin dalam terkontraksi," kata Ketua Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Lampung Ary Meizari Alfian, saat menanggapi Pidato Kenegaraan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD Tahun 2021 di Gedung MPR/DPR/DPD, Jakarta, Senin.

Ia menyebutkan ekosistem dunia usaha dan industri di daerah terutama di Lampung turut terdampak parah imbas pandemi COVID-19, sejauh ini bahkan sudah ada yang mengibarkan bendera putih tanda menyerah.

Ary menilai ada bagian pidato Presiden mengingatkan, perkembangan investasi harus menjadi bagian terintegrasi dengan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan, selaku representasi dari kalangan dunia usaha di Lampung.

"Kami respek dan ikut pesan Presiden," ujarnya.

Baca juga: Presiden targetkan pertumbuhan ekonomi 5-5,5 persen pada 2022

Menurutnya, terpenuhinya target capaian realisasi investasi tahun 2020 lalu, disertai realisasi pertumbuhan ekonomi yang bergigi untuk ukuran negara sebesar Indonesia, dengan segenap kompleksitas anatomi ekonomi nasionalnya yang ada di tengah pandemi ini, harus dibentengi percepatan tiga hal.

Pertama, kejar target serapan pagu anggaran tahun ini baik APBN, APBD 34 provinsi, dan 514 kabupaten/kota di Agustus hingga akhir tahun nanti terutama belanja publik, bantuan sosial, subsidi fiskal buffer sector, dan tekan kebocorannya.

"Harus diperkuat pula pengawasannya," katanya.

Kemudian, lanjutnya, antarkementerian/lembaga juga pemda, jangan ada lagi istilah, "pacar ketinggalan kereta". Semangat pidato presiden jadikan cambuk agar gereget percepatan itu nyata.

"Roda harus terus berputar. Misal budaya main aman, simpan dana kas daerah di BI, itu harus ditinggalkan," ujarnya.

Kedua, ini masih terkait pula dengan serapan anggaran, maksimalkan budaya ketimuran kita sebagai bangsa besar yang ramah, juga dalam hal serapan investasi. Untuk pemda, ambil contoh, mari imbangi tekad Presiden dalam reformasi struktural bahwa birokrasi berbelit harus dipangkas. Fokus pemerintah dan pemda mengundang investasi masuk, untuk penciptaan lapangan kerja baru juga harus diimbangi komunikasi harmonis.

Baca juga: Presiden: Investasi harus terintegrasi dengan pertumbuhan ekonomi

Ajak investor, dunia usaha, para industrialis, sesering mungkin berdialog sambung rasa dan saling beri input positif. Agar supaya tercipta iklim usaha kondusif, ekonomi pulih, bertumbuh, inklusif dan berkeadilan. Ingat, biaya pembangunan takkan cukup lunas dibayar hanya dari pos APBN/APBD.

Dari itu, ketiga, butuh dukungan kebijakan yang juga inklusif dan berkeadilan tentu. Bukan saja pro rakyat, pro demokrasi, dan pro lingkungan, tetapi juga pro ketahanan.

"Bagi kami, buat apa capaian pertumbuhan ekonomi, serapan anggaran dan investasi tinggi, keberpihakannya pada kepentingan rakyat oke, diputuskan secara demokratis, berwawasan lingkungan, tetapi rapuh," ujarnya.

Ia menyebutkan semangat yang dilihat dari keseluruhan transkipsi pidato Presiden. optimistis, intervensi kuat negara pada sektor-sektor ekonomi produktif tetapi juga resilience, bagian dari strategi pemulihan krisis.

"Kami mengajak kita semua, di tengah wabah, di tengah keterbatasan, di tengah kembang kempis denyut ekonomi kita saat ini, tetap semangat bertahan dan bagi yang sanggup, jemput bola peluang ikut pulih bertumbuh, jangan segan jangan ragu, krisis ini guru terbaik untuk lompatan tajam ke depan," tambah Ary

Baca juga: Ekonom: Target pertumbuhan ekonomi 2022 di atas 5 persen realistis

Baca juga: Indef : Implementasi kebijakan kunci pertumbuhan ekonomi 2022

Baca juga: Banggar DPR: Target RAPBN 2022 tergantung pengendalian pandemi
Pewarta : Agus Wira Sukarta
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021