Peneliti ingatkan atasi ketimpangan produktivitas pangan antarwilayah

Peneliti ingatkan atasi ketimpangan produktivitas pangan antarwilayah

Ilustrasi - Petani di tengah sawah. ANTARA/Pradipta Kurniawan Syah

Jakarta (ANTARA) - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Indra Setiawan menekankan pentingnya untuk mengatasi ketimpangan produktivitas pangan antarwilayah dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan Nusantara.

"Perkembangan produktivitas tanaman penting, seperti padi dan jagung, yang cenderung stagnan dalam beberapa tahun terakhir dapat diatasi dengan memacu peningkatan produktivitas di luar Pulau Jawa," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produktivitas padi yang dihasilkan di Pulau Jawa lebih tinggi 23 persen dari produktivitas padi di luar Jawa.

Selain itu, rata-rata produktivitas petani padi di luar Jawa hanya mencapai 45,78 kuintal GKG per hektar, lebih rendah dari produktivitas petani padi di Pulau Jawa yang sebesar 56,42 kuintal GKG per hektar.

Akibatnya, masih menurut dia, walaupun luas panen padi di luar Jawa berkontribusi pada sekitar 50 persen dari total luas panen padi nasional yang mencapai 10,68 juta hektar di 2019, kontribusi petani luar Jawa terhadap produksi padi nasional hanya sebesar 44 persen.

"Potensi peningkatan produktivitas dari luar Jawa dapat dipacu lewat penggunaan pupuk dan benih unggul, mekanisasi pertanian, dan juga peningkatan akses dan perbaikan jaringan irigasi," terang Indra Setiawan.

Ia berpendapat bahwa kesenjangan produktivitas antara Jawa dan luar Jawa cenderung konsisten selama dua dekade terakhir. Dampaknya terhadap peningkatan produksi padi nasional akan sangat signifikan kalau kesenjangan ini diatasi.

Indra menjelaskan, kesenjangan produktivitas terjadi karena banyak faktor, seperti perbedaan tingkat kesuburan tanah dan cuaca yang mendukung budidaya, sumber daya manusia, kondisi infrastruktur pertanian dan penerapan teknologi budidaya. Secara umum, petani luar Jawa relatif tertinggal dari koleganya di Jawa, baik secara kapasitas maupun teknologi budidaya pertanian.

"Diperlukan upaya untuk mempersempit kesenjangan tersebut, misalnya melalui pendampingan, penyuluhan yang intensif serta penguatan kapasitas kelompok tani," jelasnya.

Selain itu pemerintah juga perlu membangun infrastruktur irigasi yang memadai, mendorong mekanisasi pada proses tanam yang dimulai dari penyiapan lahan dan proses panen.

Penelitian CIPS juga merekomendasikan pemerintah untuk meningkatkan upaya mempersempit kesenjangan produktivitas antar daerah untuk menciptakan sentra-sentra tanaman pangan baru di Indonesia.

"Kemunculan sentra-sentra tanaman pangan yang tersebar di berbagai wilayah diharapkan dapat mengurangi biaya logistik dan pada akhirnya dapat membuat harga jual menjadi lebih kompetitif untuk penjual dan semakin terjangkau untuk konsumen," paparnya.

Baca juga: DPR minta Pemerintah tingkatkan ketahanan pangan antisipasi COVID-19
Baca juga: IPB: Akuaponik solusi ketahanan pangan rumah tangga maupun komersial
Baca juga: Kemenperin fokus revitalisasi industri pupuk topang ketahanan pangan

 
Pewarta : M Razi Rahman
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021