Perlindungan ekosistem mangrove penting untuk mitigasi perubahan iklim

Perlindungan ekosistem mangrove penting untuk mitigasi perubahan iklim

Tangkapan layar Kepala BKSDA Jakarta, Abdul Kadir dalam webinar bertema "Aku, Mangrove, dan Masa Depannya" dipantau via daring di Jakarta, Jumat (30/7/2021). ANTARA/Zubi Mahrofi.

Jakarta (ANTARA) - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DKI Jakarta menyampaikan perlindungan dan restorasi ekosistem mangrove merupakan langkah penting bagi Indonesia dalam memitigasi perubahan iklim.

"Ekosistem mangrove memiliki kaitan yang erat terhadap perubahan iklim," ujar Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jakarta Abdul Kodir dalam webinar bertema "Aku, Mangrove, dan Masa Depannya" dipantau via daring di Jakarta, Jumat.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), ia mengemukakan, Indonesia memiliki ekosistem mangrove terbesar di dunia dengan luasan mencapai 3,3 juta hektare (ha). 

"Luasan tersebut merupakan 23 persen dari total mangrove di dunia yang mampu menyimpan karbon hingga sepertiga dari seluruh karbon yang tersimpan dalam ekosistem pesisir dunia," ujar dia.

Ia menambahkan keberadaan mangrove di kawasan pesisir juga dapat meningkatkan ketahanan masyarakat di pesisir terhadap perubahan iklim, serta meminimalisir dampak bencana alam seperti tsunami, badai, maupun gelombang laut.

"Selain itu mangrove mampu menjaga kualitas dan kejernihan air, menyaring polutan serta mengendapkan sedimen yang berasal dari daratan," katanya.

Ekosistem mangrove yang sehat, lanjut dia, juga akan mendukung produktivitas perikanan, memberikan sumber pendapatan masyarakat hingga berkontribusi pada ketahanan pangan dan sosial.

Meski mempunyai banyak manfaat, Abdul Kadir mengatakan tekanan terhadap ekosistem mangrove masih terus terjadi sehingga diperlukan strategi pengelolaan kolaboratif dan manajemen terpadu untuk mengatasinya.

"Tugas ini tentu tidak bisa dilakukan oleh pemerintah saja, namun juga menjadi tanggung jawab kita semua," ujar dia.

Ia mengharapkan, melalui kemitraan Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA) yang diinisiasi oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), yang juga menggandeng kalangan usaha telah mendukung BKSDA Jakarta untuk melakukan penguatan fungsi Suaka Margasatwa Muara Angke sebagai pusat edukasi dan restorasi.

"Kawasan ini merupakan salah satu ekosistem mangrove yang masih tersisa di Jakarta dan merupakan habitat berbagai macam flora dan fauna bagi masyarakat DKI Jakarta dan sekitarnya," katanya.

Baca juga: Luhut terus dorong pendanaan baru mitigasi bencana perubahan iklim
Baca juga: KKP segera rehabilitasi enam kawasan mangrove untuk pulihkan ekonomi
Pewarta : Zubi Mahrofi
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2021