BPPT perkuat infrastruktur penelitian laut dalam

BPPT perkuat infrastruktur penelitian laut dalam

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza berbicara dalam webinar Inovasi Teknologi Struktur Pelindung Pantai Mendukung Pembangunan Wilayah Pesisir Terpadu yang Berkelanjutan, Jakarta, Rabu (23/06/2021). (ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Jakarta (ANTARA) - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) memperkuat infrastruktur penelitian laut dalam untuk mengeksplorasi laut dalam dan potensinya termasuk kandungan mineral di perairan Indonesia.

"Sebagai bagian dari upaya penguatan infrastruktur penelitian laut dalam, pada beberapa tahun terakhir ini, BPPT telah melakukan berbagai langkah peningkatan kemampuan infrastruktur riset berupa revitalisasi Kapal Riset Baruna Jaya dan berbagai peralatan pendukung," kata Kepala BPPT Hammam Riza dalam seminar virtual (webinar) dengan tema "Eksplorasi Mineral Laut Dalam di Indonesia: Potensi, Kebijakan, Tantangan dan Teknologi" di Jakarta, Kamis.

BPPT telah melakukan revitalisasi terbatas pada tahun 2020 terhadap Kapal Riset Baruna Jaya I dan Kapal Riset Baruna Jaya III yang saat ini didedikasikan pada operasional survei untuk penguatan dan pengembangan Sistem Peringatan Dini Tsunami (Tsunami Early Warning System) di Indonesia.

Kapal riset tersebut juga digunakan untuk pemetaan laut dalam dalam rangka untuk submisi ekstensi batas landas kontinen Indonesia, dan untuk survei laut dalam rangka mendukung penentuan jalur kabel telekomunikasi bawah laut Palapa Ring.

Baca juga: BPPT: Eksplorasi mineral laut dukung teknologi ramah lingkungan

Baca juga: BPPT: Inovasi BPPT-Lock bermanfaat untuk pelindung pantai


Selan itu, Hammam menuturkan berbagai peralatan baru hasil pengadaan tahun 2017-2020 juga memperkuat infrastruktur riset laut dalam, seperti berbagai Multibeam Echosounder (MBES) untuk pemetaan dasar laut kedalaman sampai 3.500 meter (m), 8.000 m dan sampai kedalaman 11.000 m.

Hammam mengatakan MBES laut dalam sampai kedalaman 11.000 m merupakan satu-satunya yang dimiliki oleh Indonesia saat ini.

Ada juga peralatan untuk hidro-oseanografi seperti CTD (Conductivity Temperature Depth) sampai kedalaman 6.000 m, dan berbagai peralatan lainnya termasuk Remotelly Operated Vehicle (ROV) yang dapat digunakan untuk mengamati dan memotret objek bawah laut sampai kedalaman 1.000 m.

Dalam mendukung operasi survei laut di tengah samudera, Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT saat ini juga telah dilengkapi ruang kontrol atau Command Center sebagai Pusat Pengendalian Operasi Survei Kapal Riset (KR) Baruna Jaya yang menggunakan komunikasi melalui satelit VSAT.

"Dengan infrastruktur riset KR Baruna Jaya BPPT ini, tentu diharapkan dapat mendukung upaya-upaya untuk kegiatan riset laut dalam termasuk eksplorasi mineral laut dalam di Indonesia," tutur Hammam.

Baca juga: BPPT buat kliring teknologi-inovasi struktur tanggul untuk waduk laut

Baca juga: BPPT dorong riset dan inovasi untuk desa inovatif berdaya saing
Pewarta : Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021