PDIP gelar Festival Pahlawan Desa rebutkan Piala Megawati

PDIP gelar Festival Pahlawan Desa rebutkan Piala Megawati

Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. (ANTARA/HO-PDIP)

Jakarta (ANTARA) -
DPP PDI Perjuangan menggelar festival karya video pendek mengenai tokoh desa/kelurahan yang akan memperebutkan Piala Megawati Kawal Pancasila dari Desa.
 
Acara itu diluncurkan secara virtual di Jakarta, Sabtu, yang dihadiri Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, serta dihadiri para Ketua DPP PDIP, yakni Puan Maharani, Tri Rismaharini, Yasonna Laoly, Ahmad Basarah, Rokhmin Dahuri, Sri Rahayu, dan Yanti Sukamdani.
 
Acara diorganisasikan oleh Badan Kebudayaan Nasional Pusat (BKNP) PDIP. Hadir Ketua Aria Bima, Sekretaris Rano Karno, Bendahara Vita Ervina, Abidin Fikri, dan Kirana Larasati sebagai moderator.
 
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan, Megawati meminta agar kegiatan ini tak hanya bicara tokoh penggerak desa/kelurahan.
Tapi lebih jauh, bagaimana dengan kegiatan ini mampu menunjukkan desa yang sebenarnya. Dari keindahannya, makanannya, tradisi desa, hingga kebijakan lokal yang tumbuh di desa tersebut.
 
"Bu Mega berpesan agar saat kita bicara desa, maka desa harus jadi pusat pergerakan kepartaian kita, desa harus jadi pusat penghormatan dan pembumian Pancasila," kata Hasto menyampaikan pesan dari Megawati.
 
Hasto melanjutkan, Megawati mengingatkan bahwa desa adalah ujung tombak pemerintahan, tempat hidupnya adat istiadat yang merupakan sumber kebudayaan dan kepribadian bangsa.
 
Oleh karena itu, kata dia, Megawati berharap kegiatan ini menjadi momentum untuk mengingatkan kader agar bergerak dari desa, sebagai basis teritorial dalam menghadirkan seluruh cita-cita dan gagasan Bung Karno.
 
"Menurut Ibu Mega, dari bergerak di desa, bisa dimulai misalnya dari sanitasi. Soal kebersihan desa, ketersediaan air bersih, kecukupan gizi di desa, dan benarkah di tengah pandemi ini, nilai gotong royong jadi nilai penggerak di desa, saling membantu satu sama lain sehingga semua jadi lebih ringan karena gotong royong itu," papar Hasto dalam siaran persnya.
 
Oleh karena itu, Megawati juga berpesan dalam menyelenggarakan lomba untuk melihat keseluruhan aspek desa, dan lebih penting bagaimana kader-kader partai hadir di tengah desa.
 
Hasto menambahkan, Megawati dan dirinya baru saja mengeluarkan surat edaran kepada kader partai di seluruh Indonesia.
 
Isinya, mengingatkan kader partai bahwa jebakan utama kader partai adalah perasaan mapan; seakan menjadi pemenang pemilu sudah cukup sehingga tak mau bekerja keras; cenderung terjebak dalam kehidupan hedonis, dan masuk dalam alam pikir kapitalisme yang sebenarnya harus dilawan dengan gotong royong.
 
"Maka kader harus mendorong 'fighting spirit', cari tantangan baru demi menjalankan ajaran Bung Karno. Dan ini harus dilaksanakan dengan kesadaran yang tertinggi. Sehingga kader bergerak, berinisiatif dengan kesadarannya, tanpa harus diperintah lebih dulu," tegas Hasto.
 
Ditegaskan Hasto, pesan dari Megawati itu memiliki makna jelas bahwa kader partai harus menjadi ujung tombak gerakan di desa.
 
"Karena itulah, dengan melihat desa, maka kita tahu bahwa desa sebagai pusat peradaban harus kita kembangkan, bahwa sejatinya letak karakter kader partai adalah turun ke bawah menggelorakan semangat turun dan bersama rakyat di desa," demikian Hasto Kristiyanto.
Pewarta : Syaiful Hakim
Editor: M Arief Iskandar
COPYRIGHT © ANTARA 2021