BKKBN: Maindset pola makan masyarakat sangat penting atasi stunting

BKKBN: Maindset pola makan masyarakat sangat penting atasi stunting

Tangkapan layar Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo saat membuka webinar rangkaian peringatan Hari Keluarga Nasional ke-28 bertema Sobat Milenial Yuks Cegah Stunting yang diadakan BKKBN diakses dari Jakarta, Rabu (23/6/2021). (ANTARA/Virna P Setyorini)

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengatakan mengubah pola pikir masyarakat mengenai makan sangat penting untuk mengatasi persoalan stunting pada anak.

“Ketika mereka punya ikan, tapi yang dimakan mi, cilok, kerupuk, ini prihatin,” kata Hasto saat membuka webinar rangkaian peringatan Hari Keluarga Nasional ke-28 bertema "Sobat Milenial, Yuks Cegah Stunting" yang diadakan BKKBN dan diakses dari Jakarta, Rabu.

Menurut dia, asupan sebutir telur saja setiap hari bisa menurunkan stunting jika dilakukan, bahkan di Thailand mereka menggoreng ulat tertentu. "Kita protein hewan itu melimpah sebenarnya. Jadi perlu reformasi pola makan," katanya.

Ketika Jepang melakukan revolusi makan ikan, maka pola makan mereka berubah semua. Jika pemerintah saja bisa melakukan reformasi birokrasi, menurut dia, masyarakat juga bisa melakukan reformasi pola makan untuk mencegah stunting pada anak.

Sebelumnya pakar penyakit nutrisi dan metabolik anak Prof Damayanti Rusli Sjarif mengatakan stunting merupakan petanda terjadinya kegagalan multiorgan akibat malnutrisi energi dan protein kronis, terutama protein hewani dengan asam amino esensial yang lengkap dan cukup.

Jika tidak segera dicegah, katanya, stunting akan menurunkan kualitas sumber daya manusia (SDM) suatu bangsa. Penurunan fungsi kognitif dapat dicegah jika intervensi dilakukan sebelum anak mencapai usia dua tahun.

"Sebenarnya masyarakat bisa menolong dirinya sendiri dengan sedikit bantuan petugas kesehatan. Jadi dalam dua tahun pertama masa kritis untuk membentuk sumber daya manusia unggul. Saya rasa BKKBN menganjurkan dua anak per keluarga, tentu kita ingin anak-anak yang lahir berkualitas," ujar Prof Damayanti.

Menurut dia, hanya 38,2 persen anak berusia enam sampai dengan 24 bulan atau bayi di bawah usia dua tahun (baduta) di Indonesia yang MPASI-nya mengandung protein hewani, hal itu dapat menjelaskan tingginya angka kejadian stunting di Indonesia.

"Peran masyarakat dalam menurunkan stunting, ia mengatakan, terbukti di Pandeglang dengan sosialisasi konsumsi pangan hewani dalam MPASI oleh PKK, deteksi dini weight faltering dan merujuk ke fasilitas kesehatan oleh kader posyandu agar dapat ditatalaksana segera di masa bayi dan baduta untuk menjamin terwujudnya generasi unggul Indonesia," katanya.

Pewarta : Virna P Setyorini
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2021