Kemenperin genjot daya saing dan ekspor IKM makanan dan minuman

Kemenperin genjot daya saing dan ekspor IKM makanan dan minuman

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita (kedua kanan) didampingi Staf Khusus Menperin Achmad Sigit Dwiwahjono (ketiga kanan) melihat proses produksi Industri Kecil Menengah (IKM) cokelat di Bali, Senin (31/5/2021). ANTARA/HO-Humas Kementerian Perindustrian/aa.

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perindustrian konsisten menggenjot daya saing dan ekspor industri kecil menengah (IKM) makanan dan minuman (mamin) melalui peningkatkan kualitas serta membangun branding, serta peningkatan nilai tambah sampai dengan pemasaran, mengingat IKM sektor tersebut merupakan salah satu sektor yang dipacu pengembangannya.

“Tentunya ini menunjukkan bahwa IKM mamin memiliki peran penting sebagai komponen pemberdayaan masyarakat dalam memajukan perekonomian Indonesia,” ujar Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, Sabtu.

Agus menyampaikan, IKM juga dibimbing untuk dapat menentukan strategi yang tepat dalam beradaptasi, memperkuat inovasi dan teknologi, serta membaca tren dan kebutuhan pasar.

IKM mamin saat ini berjumlah sekitar 1,68 juta unit usaha atau 38,27 persen dari total unit usaha IKM secara keseluruhan. Jumlah tersebut mampu menyerap hingga sekitar 3,89 juta tenaga kerja.

Produk IKM mamin Indonesia memiliki potensi yang besar untuk memenuhi pasar dalam negeri serta pasar ekspor. Di era pasar global, peluang ekspor produk Indonesia terbuka lebar, namun hal ini juga menjadi tantangan tersendiri karena pelaku usaha akan bersaing dengan kompetitor dari negara lain.

Menurut data dari salah satu e-commerce global, banyak produk mamin yang tersedia di Indonesia memiliki potensi pasar ekspor yang tinggi seperti aneka tepung (tepung tapioka, tepung sagu), aneka buah kering (mangga, nangka, buah naga, pepaya), keripik buah (nangka, pisang, singkong), gula palma, kopi, teh, bubuk kelor, olahan kelapa (bubuk kelapa, VCO), dan rempah (bubuk lada, bubuk kayu manis).

Namun karena para pelaku IKM mamin masih perlu meningkatkan pengetahuan akan akses pasar global, maka pasar ekspor produk-produk potensial tersebut pada saat ini masih didominasi dari negara lain seperti Vietnam dan Thailand.

“Hal ini menunjukkan Indonesia perlu memanfaatkan peluang pasar ekspor,” kata Menperin.

Untuk dapat memanfaatkan peluang tersebut dan bersaing dengan negara lain, faktor penting yang harus diperhatikan oleh IKM mamin adalah pemenuhan keamanan dan mutu produk sesuai standar-standar yang ditentukan, penggunaan teknologi proses yang efisien dan inovatif, serta pengembangan produk menyesuaikan dengan permintaan pasar.

Aneka produk hilir mamin, termasuk keripik dan kerupuk, perlu terus ditingkatkan daya saingnya dengan memperhatikan standar-standar seperti GMP (Good Manufacturing Practices) atau Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB) dan HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point).

Kemudian, memiliki kemasan yang menarik dan sesuai dengan regulasi yang berlaku. Selain itu, penggunaan mesin dan teknologi peralatan juga diperlukan untuk menjaga kualitas produk pangan yang dihasilkan.

“Produk IKM mamin juga membutuhkan sertifikasi sistem keamanan pangan agar dapat diterima di pasar global. Selain menghasilkan produk hilir yang berkualitas, IKM mamin juga telah mampu menghasilkan produk bahan baku yang dapat menjadi substitusi impor, seperti tepung mocaf, sagu, porang, dan sebagainya,” kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Dirjen IKMA) Kemenperin, Gati Wibawaningsih.

Kemenperin memiliki program Indonesia Food Innovation (IFI) yang dilaksanakan rutin setiap tahun untuk memacu IKM mamin dalam meningkatkan nilai inovasi dan pemanfaatan penggunaan bahan baku lokal yang cukup banyak dan beragam.

Lewat IFI, Kemenperin mendorong IKM mamin untuk melakukan percepatan pengembangan kapasitas bisnis dengan memberikan solusi supply chain dan added value kepada komoditas bahan pangan asal Indonesia melalui inovasi yang berkelanjutan untuk memenuhi perubahan pasar yang dinamis, sehingga menghasilkan produk mamin berkualitas dan berdaya saing ekspor.

“IFI merupakan program pembinaan dan pendampingan yang tepat dari para ahli di bidang bisnis maupun teknis untuk akselerasi bisnis menuju IKM modern yang marketable, profitable dan sustainable, dan berujung pada peningkatan skala bisnis IKM,” kata Dirjen IKMA.

Kemenperin juga mendorong IKM yang mampu menghasilkan permesinan teknologi tepat guna (TTG) seperti PT. Yogya Presisi Tehnikatama Industri, di Sleman, Yogyakarta, untuk memproduksi mesin dan peralatan yang dapat digunakan oleh IKM mamin dalam meningkatkan kapasitas produksi dan daya saingnya.

Peningkatan nilai tambah IKM mamin melalui efisiensi, inovasi dan teknologi dengan menerapkan industri 4.0 merupakan salah satu fokus Kemenperin. Penerapan industri 4.0 di sektor IKM sudah dilakukan dari sisi hulu sampai kepada pemasaran, meliputi pembangunan material center untuk menjamin ketersediaan bahan baku yang mudah dijangkau oleh IKM dan dengan harga yang bersaing.

Selanjutnya, penerapan sistem traceability pada produksi gula kelapa di Kabupaten Banyumas. Kemudian, pemanfaatan teknologi digital melalui program e-Smart IKM untuk pemasaran produk IKM yang telah dijalankan Kemenperin sejak 2017.

“Kami juga mendorong peningkatan kualitas kemasan produk IKM melalui platform e-kemasan,” kata Gati

Baca juga: IKM makanan butuh pasokan bahan baku hadapi dampak COVID-19

Baca juga: Kemenperin fasilitasi 23 IKM makanan dan minuman Lombok sertifikat halal

 

Pewarta : Sella Panduarsa Gareta
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2021