PBSI: Kido layak disebut sebagai legenda bulu tangkis

PBSI: Kido layak disebut sebagai legenda bulu tangkis

Mantan pebulu tangkis nasional dan peraih medali emas Olimpiade Beijing 2008 Markis Kido tutup usia, Senin (14//2021). ANTARA.HO-PBSI.

Jakarta (ANTARA) - Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) menyampaikan duka yang mendalam atas berpulangnya Markis Kido yang layak menerima titel legenda atas prestasinya dalam bidang olahraga nasional.

"Hari ini keluarga besar bulu tangkis Indonesia sangat berduka dengan berpulangnya Markis Kido, pahlawan bulu tangkis yang telah berulang kali mengharumkan nama Merah Putih di panggung dunia," kata Ketua Umum PP PBSI Agung Firman Sampurna lewat keterangan tertulis PBSI, Senin.

Pebulu tangkis yang akrab disapa "Uda" itu layak disebut legenda bulu tangkis dengan segala prestasi yang sudah ditorehkan untuk Indonesia. Oleh karenanya, PBSI berharap suri tauladan pria kelahiran 11 Agustus 1984 itu menjadi inspirasi para penerusnya.

Baca juga: Mantan pebulu tangkis nasional Markis Kido meninggal dunia
Baca juga: Kido meninggal akibat serangan jantung saat bermain bulu tangkis


Ia memaparkan, capaian prestasi Kido antara lain juara dunia 2007 di Kuala Lumpur, medali emas Olimpiade Beijing 2008, dan emas Asian Games 2010 Guangzhou bersama Hendra Setiawan yang kini masih tergabung di Pelatnas Cipayung.

"Semoga suri teladan, semangat juang, prestasi besar, dan etos kerja yang telah ditunjukkan Markis Kido selama ini, bisa menginspirasi para pebulutangkis Indonesia untuk mengikuti jejak almarhum," Agung menyebutkan.

Almarhum meninggalkan seorang istri, Richasari Pawestri dan dua orang putri.

Jenazah malam ini akan langsung disemayamkan di rumah duka Jalan Gemak B149, RT.003/RW.009, Jaka Setia, Kec. Bekasi Selatan, Kota Bekasi. Untuk proses pemakaman masih menunggu kedatangan sang istri dari Solo, demikian informasi yang diterima Antara menyebutkan.

Baca juga: Hendra kenang 14 tahun kebersamaan bersama Kido di karir bulu tangkis
Baca juga: Selamat jalan Markis Kido
Pewarta : Roy Rosa Bachtiar
Editor: Teguh Handoko
COPYRIGHT © ANTARA 2021