Pokja Genetik UGM: Varian Delta dari India belum terdeteksi di DIY

Pokja Genetik UGM: Varian Delta dari India belum terdeteksi di DIY

Ketua Pokja Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM dr Gunadi. ANTARA FOTO/Luqman Hakim.

Yogyakarta (ANTARA) - Kelompok Kerja Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyatakan varian virus corona B.1.617.2 atau disebut varian Delta dari India belum terdeteksi muncul di Daerah Istimewa Yogyakarta.

"Sampai pemeriksaan (sampel) terakhir belum terdeteksi," kata Ketua Pokja Genetik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM dr Gunadi saat dikonfirmasi di Yogyakarta, Senin.

Selain varian Delta dari India, ia bersama timnya juga mengaku belum mendeteksi adanya varian baru virus corona lainnya yang masuk kategori variant of concern (VoC) atau yang perlu mendapat perhatian.

Gunadi menuturkan Pokja Genetik UGM secara rutin melalukan pemeriksaan whole genom sequencing (WGS) sampel virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 di DIY dan Jawa Tengah (Jateng) bagian selatan.

Sejak 2020 hingga awal Juni 2021, menurut dia, tercatat 44 sampel virus corona di wilayah DIY telah diperiksa.

Baca juga: Pakar: Varian Delta India lebih cepat menular dari Alpha Inggris

Baca juga: Singapura temukan varian Delta paling umum di antara kasus lokal COVID


Meski hingga kini belum terdeteksi, menurut dia, belum bisa disimpulkan bahwa varian baru tersebut sama sekali tidak ada di DIY karena jumlah sampel baru yang diperiksa masih sedikit.

"Itu data sejak tahun lalu. Kalau sampel-sampel yang baru masih sedikit," kata dia.

Surveilans genom untuk melacak kemungkinan munculnya virus SARS-CoV-2 varian baru di DIY, kata dia, akan terus dilanjutkan.

Pokja UGM, menurut dia, telah mendapatkan laporan dari sejumlah otoritas kesehatan, termasuk RSUP Dr Sardjito serta Dinkes Sleman mengenai temuan kasus COVID-19 yang memenuhi kriteria untuk diprioritaskan dilakukan WGS atau pengurutan genom virus corona.

Ia menyebut ada enam kriteria yang ditentukan Kemenkes, antara lain kasus penularan COVID-19 terjadi secara cepat, orang terinfeksi meski sudah divaksinasi, penularan pada kelompok tidak rentan seperti anak-anak, orang yang baru mendarat dari luar negeri, munculnya kasus reinfeksi, serta kasus kematian COVID-19 dengan komorbid penyakit menular lain seperti HIV.

"Kami akan terus (melakukan pemeriksaan genom). Kalau di DIY ada enam kriteria itu, akan terus kami 'running'," ujar Gunadi.

Sebelumnya, Gunadi menyebut dari 1.171 sampel virus corona hasil WGS yang dikirimkan Indonesia kepada platform data virus influenza internasional (GISAID) hingga 25 Mei 2021, sebanyak 45 sampel mengandung varian baru yang terdiri atas 16 varian Inggris, 27 varian India, dan 2 varian Afrika Selatan.

Ia menegaskan dari 45 sampel itu, tidak ada yang berasal dari DIY.

Baca juga: Panel India sebut perlu respons global tahan varian lebih menular

Baca juga: Klaster COVID varian Delta terdeteksi di sekolah seni Prancis
Pewarta : Luqman Hakim
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021