Pemimpin junta Myanmar ragukan kembalinya warga Rohingya

Pemimpin junta Myanmar ragukan kembalinya warga Rohingya

Seorang bocah pengungsi Rohingya terlihat di kamp pengungsi tempat kebakaran besar terjadi dua hari lalu, Cox's Bazar, Bangladesh, Rabu (24/3/2021). REUTERS/Mohammad Ponir Hossain/AWW/sa. (REUTERS/MOHAMMAD PONIR HOSSAIN)

Naypyidaw (ANTARA) - Pemimpin junta Myanmar Min Aung Hlaing meragukan kembalinya ratusan ribu pengungsi Muslim Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh, dalam komentar yang dibuat dalam wawancara pertamanya sejak mengambil alih kekuasaan dalam kudeta 1 Februari.

Min Aung Hlaing ditanyai oleh televisi Phoenix berbahasa China apakah Muslim dapat diizinkan kembali ke Negara Bagian Rakhine---dari mana sebagian besar warga Rohingya melarikan diri dari tindakan keras militer pada 2017, yang menurut penyelidik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memiliki "niat genosida".

"Jika tidak mematuhi hukum Myanmar, apa lagi yang perlu dipertimbangkan? Saya tidak percaya ada negara di dunia yang akan melampaui hukum pengungsi negara mereka sendiri untuk menerima pengungsi," jawab Min Aung Hlaing, merujuk ke transkrip wawancara.

Ketika ditanya apakah itu berarti permohonan vokal internasional atas nama Rohingya tidak berhasil, dia mengangguk.

Min Aung Hlaing, yang memimpin tentara pada 2017 ketika sekitar 700.000 warga Rohingya melarikan diri dari pasukan militer, mengulangi pandangan kaum nasionalis di Myanmar yang mayoritas beragama Buddha bahwa Rohingya bukanlah salah satu dari kelompok etnisnya.

Dia mengatakan istilah Rohingya baru muncul sejak kemerdekaan dari Inggris pada 1948.

“Setelah kami merdeka, sensus juga mencatat kata 'Bengali', 'Pakistan' dan 'Chittagong', tapi tidak pernah ada kata 'Rohingya', jadi kami tidak pernah menerimanya," kata Min Aung Hlaing.

Rohingya secara luas disebut sebagai Bengali oleh otoritas Myanmar---menyiratkan bahwa mereka adalah orang luar dari Bangladesh, meskipun beberapa dapat melacak asal-usul mereka di Myanmar selama berabad-abad.

Pemimpin terpilih Myanmar Aung San Suu Kyi, yang digulingkan oleh Min Aung Hlaing pada 1 Februari, juga mendapat kecaman internasional karena membela tentara dari tuduhan genosida yang berkaitan dengan Rohingya.

Dia dan militer menolak tuduhan genosida dengan mengatakan pasukan keamanan terlibat dalam operasi yang sah terhadap pemberontak Rohingya ketika para pengungsi melarikan diri ke Bangladesh.

Tidak lama setelah kudeta, Min Aung Hlaing mengatakan upaya untuk memulangkan pengungsi dari Bangladesh akan terus berlanjut, tetapi belum ada tanda-tanda kemajuan sementara junta berjuang untuk memaksakan kendali di Myanmar.

Bangladesh sangat ingin melihat pengungsi Rohingya kembali ke Myanmar dari kamp-kamp besar tempat kebanyakan dari mereka tinggal di distrik perbatasan tenggara Bangladesh.

Media Bangladesh, Dhaka Tribune, melaporkan pada Senin bahwa upaya sedang dilakukan untuk memulai kembali pembicaraan tentang pemulangan Rohingya antara Bangladesh dan Myanmar dengan bantuan China.

Sumber: Reuters
Baca juga: Rohingya di Bangladesh bangun kembali gubuk mereka setelah kebakaran
Baca juga: Malaysia izinkan kelompok HAM tuntut soal deportasi warga Myanmar
Baca juga: Menlu India kunjungi Bangladesh di tengah krisis repatriasi Rohingya
Pewarta : Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2021