BPPT harapkan penerapan AI masuki sektor industri unggulan

BPPT harapkan penerapan AI masuki sektor industri unggulan

Kepala BPPT Hammam Riza

Jakarta (ANTARA) - Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza berharap kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) bisa memasuki sektor industri unggulan di Indonesia.

"Kecerdasan artifisial juga diharapkan memasuki sektor industri unggulan, seperti disebutkan dalam roadmap Indonesia 4.0, misalnya petrokimia, industri makanan dan minuman, industri elektronik, otomotif atau transportasi, dan industri tekstil," kata Hammam dalam keterangan tertulis yang diterima ANTARA di Jakarta, Sabtu.

Kecerdasan artifisial akan meningkatkan kinerja di sektor industri. Kecerdasan artifisial membantu manusia bukan menghilangkan pekerjaan manusia.

Baca juga: Guru Besar ITB sebut tiga penyebab bias pada kecerdasan artifisial

Baca juga: BPPT bangun kolaborasi kembangkan supercomputing-kecerdasan artifisial


Hammam mengatakan kecerdasan artifisial dapat diartikan sebagai sebuah kemampuan komputer yang memiliki kecerdasan meniru fungsi kognitif manusia.

Teknologi kecerdasan artifisial diciptakan untuk memahami dan memberi solusi terhadap suatu masalah dengan lebih cepat, efektif dan mampu menyelesaikan pekerjaan manusia dengan lebih mudah serta memberi hasil yang maksimal.

BPPT telah meluncurkan Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial (Stranas KA) melalui kerja sama dengan para pemangku kepentingan.

Stranas tersebut merupakan arah kebijakan nasional dalam pengembangan teknologi kecerdasan artifisial di beberapa sektor prioritas pembangunan nasional, di antaranya sektor kesehatan, reformasi birokrasi, pendidikan dan riset, ketahanan pangan, serta mobilitas/kota cerdas (smart city).

Hammam berharap penerapan kecerdasan artifisial tidak terbatas pada lima bidang prioritas tersebut, tapi juga pada sektor industri unggulan.

"Stranas KA menjadi indikator bagi sebuah negara yang siap beradaptasi dengan kemajuan industri 4.0 yang ditandai dengan KA, big data dan clod computing. Ini semua melambangkan bahwa negara itu betul-betul ingin menghela pertumbuhan ekonomi dengan memanfaatkan teknologi 4.0," tuturnya.

Baca juga: BPPT bangun Pusat Inovasi Kecerdasan Artifisial

Menurut Hammam, revolusi industri 4.0 merupakan bagian dari roadmap kemajuan zaman, juga kemajuan dari sebuah bangsa dan negara. Indonesia juga sudah memiliki Making Indonesia 4.0 yang berusaha meletakkan roadmap strategi Indonesia agar menjadi salah satu ekonomi terkuat di dunia.

"Pada saat Indonesia 100 tahun merdeka, di situlah Stranas KA merupakan jalan menuju Indonesia 45," ujar Hammam.

Hammam menuturkan meskipun kecerdasan artifisial yang dikenal saat ini masih dalam tahap narrow intelligence atau kecerdasan terbatas. Sementara manusia memiliki general intelligence yang belum bisa dilakukan jika dibandingkan dengan kemajuan kecerdasan artifisial saat ini.

Kecerdasan artifisial sudah banyak digunakan masyarakat saat ini, namun mereka belum menyadarinya. Beberapa contoh yang bisa ditemui adalah mesin pencarian (search engine) seperti Google, Bing, dan Baidu. Dalam hal ini, semua orang bisa mencari apapun yang ingin diketahui, baik informasi umum maupun produk yang ingin dibeli di aplikasi belanja online.

Contoh lainnya misalnya translator, game online, pencarian lokasi wilayah menggunakan online maps, face recognition pada smartphone dll. Ini merupakan contoh kecerdasan artifisial di kehidupan sehari-hari yang memudahkan akses informasi era transformasi digital.

Baca juga: Wantiknas: Manusia tidak boleh dikuasai oleh kecerdasan artifisial

Sektor belanja online (e-commerce) juga banyak mendapatkan manfaat dari penerapan teknologi kecerdasan artifisial, seperti penerapan sistem rekomendasi produk, tampilan aplikasi yang dikustomisasi khusus sesuai dengan user experience, sistem reminder, hingga chatbot.

Selain e-commerce, sektor media sosial, seperti Facebook, Twitter, Instagram, Youtube hingga Whatsapp dan Telegram juga tanpa disadari telah menerapkan teknologi kecerdasan artifisial untuk membuat pengguna mendapatkan rekomendasi konten dan siapa saja yang bisa mereka lihat atau ikuti (follow).
Pewarta : Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021