Wapres: Digitalisasi berperan penting di perkembangan ekonomi syariah

Wapres: Digitalisasi berperan penting di perkembangan ekonomi syariah

Wakil Presiden (Wapres) K.H. Ma’ruf Amin (kanan) menerima audiensi dari jajaran pimpinan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) di kediaman resmi Wapres, Jalan Diponegoro Nomor 2, Jakarta, Senin sore (26/04/2021). ANTARA/NN, BPMI-Setwapres/pri. (ANTARA/NN, BPMI-Setwapres)

Jakarta (ANTARA) - Wakil Presiden Ma’ruf Amin mengatakan digitalisasi memiliki peran penting dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia.

Digitalisasi dapat menahan laju penurunan penjualan produk-produk halal, mempercepat proses sertifikasi halal dan mempermudah transaksi dana sosial umat, kata Ma’ruf Amin dalam web seminar tentang ekonomi syariah yang diselenggarakan Universitas Diponegoro Semarang secara virtual, Rabu.

“Digitalisasi berperan signifikan, di antaranya dalam menahan laju penurunan kinerja penjualan produk industri halal, mempercepat mekanisme audit online dalam pengajuan sertifikasi halal, mendorong peningkatan keuangan sosial syariah terutama dalam hal pembayaran ZISWAF secara online oleh masyarakat,” kata Wapres di Jakarta, Rabu.

Baca juga: Wapres: Pembatasan mudik tingkatkan penjualan daring produk halal

Seperti kerangka yang disusun Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), peluang dan tantangan dalam digitalisasi ekonomi syariah difokuskan pada empat bidang, jelas Wapres.

“Industri halal, pemanfaatan Big Data, kecerdasan artifisial, maupun block chain dalam mendukung pengembangan industri halal dari hulu ke hilir, sebagai sumber pertumbuhan baru perekonomian Indonesia,” katanya.

Wapres mengatakan digitalisasi juga berperan penting selama masa pandemi COVID-19, khususnya pada metode pembayaran atau transaksi daring.

Baca juga: Wapres nilai RI perlu strategi agresif jadi produsen halal dunia

“Selama 2020, metode pembayaran transaksi produk halal di e-commerce marketplace didominasi oleh uang elektronik dan transfer bank; masing-masing sebesar 42,10 persen dan 23,08 persen dari pangsa,” katanya.

Sementara itu, volume transaksi keuangan digital perbankan di Indonesia tercatat hingga Maret 2021 mencapai 553,6 juta atau tumbuh 42,47 persen dari periode yang sama di 2020.

“Adapun nilai transaksinya juga naik 26,44 persen atau mencapai Rp3.025,6 triliun (yoy),” ujarnya.

 

Pewarta : Fransiska Ninditya
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021