UAE berupaya menengahi konflik India-Pakistan

UAE berupaya menengahi konflik India-Pakistan

Sejumlah warga membawa seorang anak menuju rumah sakit pemerintah di Jammu, yang menurut keterangan media setempat terluka akibat pelanggaran gencatan senjata oleh pasukan Pakistan di sepanjang Garis Kendali (LOC/Line of Control) di distrik Poonch, India, Minggu (18/3/2018). (REUTERS/Mukesh Gupta)

Dubai (ANTARA) - Uni Emirat Arab (UAE) mengonfirmasi perannya untuk menjadi penengah dalam konflik antara India dan Pakistan, guna membantu dua negara bersenjata nuklir itu mewujudkan hubungan yang "sehat dan fungsional".

Perwira tinggi intelijen dari India dan Pakistan mengadakan pembicaraan rahasia di Dubai pada Januari dalam upaya baru untuk menenangkan ketegangan militer atas wilayah Kashmir yang disengketakan, kata pihak-pihak yang mengetahui isu tersebut kepada Reuters.

Duta Besar UAE untuk Amerika Serikat Yousef Al Otaiba mengatakan dalam diskusi virtual dengan Lembaga Hoover Universitas Stanford pada Rabu (14/4) bahwa UAE memainkan peran "dalam menurunkan eskalasi di Kashmir dan menciptakan gencatan senjata, yang diharapkan pada akhirnya akan mengembalikan para diplomat dan memulihkan hubungan ke tingkat yang sehat".

Baca juga: India ubah UU kontroversial pertanahan di Kashmir
Baca juga: India, Pakistan beri kelonggaran untuk usaha kecil saat karantina


"Mereka mungkin tidak menjadi sahabat, tetapi setidaknya kami ingin membawanya ke tingkat yang berfungsi, di mana mereka berbicara satu sama lain," kata Otaiba.

Hubungan antara India dan Pakistan telah dibekukan sejak pemboman bunuh diri terhadap konvoi militer India di Kashmir pada 2019, yang dituding dilakukan oleh militan yang berbasis di Pakistan. Peristiwa itu telah memicu India mengirim pesawat tempur ke Pakistan.

Belakangan tahun itu, perdana menteri India mencabut otonomi Kashmir yang diperintah India untuk memperketat cengkeramannya atas wilayah itu, memprovokasi kemarahan di Pakistan dan penurunan hubungan diplomatik dan penangguhan perdagangan bilateral.

Otaiba juga mengatakan bahwa Pakistan harus memainkan peran yang membantu di Afghanistan, di mana AS berencana untuk mulai menarik pasukannya pada 1 Mei untuk mengakhiri perang terpanjang di Amerika.

Pejabat Emirat itu menyuarakan keprihatinan bahwa penarikan pasukan AS yang tiba-tiba akan menjadi "kemunduran" dengan melayani kepentingan "kekuatan yang lebih tidak liberal" di Afghanistan.

"Pertanyaannya adalah apakah ketiga pihak (AS, Taliban, dan pemerintah Afghanistan) dapat mencapai kesepakatan yang dapat mereka jalani bersama," kata Otaiba.

"Sulit bagi kami untuk melihat cara menstabilkan Afghanistan tanpa Pakistan memainkan peran yang membantu," tutur dia, menambahkan.

Turki akan menjadi tuan rumah konferensi perdamaian untuk Afghanistan pada 24 April-4 Mei yang dimaksudkan untuk memulai upaya untuk mengakhiri perang, dan membuat skenario kemungkinan penyelesaian politik.

Sumber: Reuters

Baca juga: India, Pakistan sepakat hentikan baku tembak di wilayah Kashmir
Baca juga: India tahan 75 orang di Kashmir usai pemilu daerah
Pewarta : Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Mulyo Sunyoto
COPYRIGHT © ANTARA 2021