Saham Asia diprediksi ikuti Wall Street setelah Fed pertahankan sikap

Saham Asia diprediksi ikuti Wall Street setelah Fed pertahankan sikap

Ilustrasi seorang wanita memegang payung berjalan di dekat papan elektonik yang menunjukkan indeks Nikkei di sebuah broker di Tokyo, Jepang, Senin (15/2/2021). ANTARA/REUTERS/Kim Kyung-Hoon/am.

New York (ANTARA) - Ekuitas Asia diprediksi akan mengikuti kenaikan moderat Wall Street pada Kamis, setelah risalah pertemuan terakhir Federal Reserve menegaskan kembali komitmennya untuk mempertahankan suku bunga rendah sampai ekonomi AS melakukan pemulihan yang lebih aman.

Indeks S&P 500 dan Dow ditutup sedikit lebih tinggi pada Rabu (7/4/2021), saat pernyataan Fed memperkuat ekspektasi investor bahwa bank sentral berencana untuk mempertahankan dukungan kebijakannya meskipun ada pengeluaran fiskal besar-besaran dari paket stimulus pemerintah baru-baru ini.

"Investor tetap sangat fokus pada suku bunga," kata Jeff Buchbinder, ahli strategi ekuitas di LPL Financial di Boston. “Kami di pasar tidak memperkirakan sinyal apa pun dari perubahan kebijakan dan itulah yang kami dapatkan.”

Indeks berjangka S&P/ ASX 200 Australia naik 0,52 persen di awal perdagangan, sementara indeks berjangka Nikkei 225 Jepang naik tipis 0,03 persen.

Para pejabat Federal Reserve AS menyatakan kehati-hatian tentang risiko pandemi yang sedang berlangsung dan menegaskan kembali komitmen mereka untuk memperkuat ekonomi mengingat "bahwa jalan ke depan tetap sangat tidak pasti," menurut risalah dari pertemuan 16-17 Maret.

Imbal hasil pada obligasi pemerintah AS 10-tahun bergerak lebih tinggi di akhir sesi, namun tetap di bawah tertinggi 14-bulan di 1,776 persen yang dicapai pada 30 Maret. Penurunan imbal hasil baru-baru ini telah membantu saham-saham pertumbuhan dan mengangkat saham-saham layanan teknologi dan komunikasi sebagai sektor dengan kinerja terbaik hari ini.

"Imbal hasil 10-tahun tidak banyak bergerak hari ini dan imbal hasil tampaknya menetap di kisaran yang sedikit lebih rendah yang benar-benar bertepatan dengan kinerja yang lebih baik untuk saham-saham pertumbuhan, terutama teknologi," kata Buchbinder.

Di Wall Street, indeks Dow Jones Industrial Average naik 0,05 persen menjadi 33.446,26 poin, S&P 500 naik 0,15 persen menjadi 4.079,95 poin dan Komposit Nasdaq turun 0,07 persen menjadi 13.688,84 poin.

Menyusul rilis risalah Fed, obligasi pemerintah AS 10-tahun yang dijadikan acuan terakhir memberikan imbal hasil 1,6686 persen, turun dari 1,656 persen pada Selasa sore (7/4/2021).

"Kami telah melihat imbal hasil jangka panjang 10 tahun melonjak dan dengan The Fed memberi tahu kami bahwa mereka tidak akan bergerak sehingga suku bunga dapat tetap di posisi terendah hingga mungkin 2022 ketika mereka turun tangan," kata Jeff Carbone, Managing Partner di Cornerstone Wealth Group di Charlotte.

Dolar AS menguat terhadap sekeranjang mata uang dunia setelah berosilasi di sebagian besar sesi, naik setelah rilis risalah Fed.

Indeks dolar menguat 0,148 persen, dengan euro turun 0,02 persen menjadi 1,1868 dolar AS. Yen Jepang datar versus greenback di 109,85 per dolar, sedangkan won Korea menguat 0,03 persen versus greenback di 1.118,71 per dolar.

Harga emas merosot karena optimisme ekonomi menarik investor menjauh dari logam safe-haven demi aset-aset berisiko.

Spot emas turun 0,4 persen menjadi 1.737,11 dolar AS per ounce. Emas berjangka AS menetap 0,1 persen lebih rendah pada 1.741,60 dolar AS per ounce.

Harga minyak mentah naik karena membaiknya prospek ekonomi global, tetapi tertahan oleh meningkatnya persediaan bensin AS.

Minyak mentah AS menetap di 59,77 dolar AS per barel atau naik 0,74 persen, sementara Brent naik 0,67 persen menjadi 63,16 dolar AS per barel.

Baca juga: Pasar saham Asia diprediksi naik tipis
Baca juga: Pasar saham Asia bakal tertekan setelah Wall Street dan minyak jatuh
Baca juga: Saham Asia diprediksi menguat ketika pasar obligasi kembali tenang
Pewarta : Apep Suhendar
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021