Inovasi banjir dengan mengembalikan air ke perut bumi

Inovasi banjir dengan mengembalikan air ke perut bumi

Warga korban banjir di Kampung Melayu menerima bantuan renovasi hunian, Jakarta, Senin (5/4/2021). ANTARA/Yogi Rachman/aa.

Jakarta (ANTARA) - Berbagai inovasi pengendali banjir telah diterapkan di DKI Jakarta mulai sistem polder, embung, kolam olakan, sumur resapan hingga kanal dan waduk, namun pada kenyataannya semua itu belum sepenuhnya efektif mengatasi persoalan tersebut.

Bagi warga yang kediamannya bertetangga dengan 13 sungai di Jakarta, banjir sudah menjadi hal biasa. Setiap kali curah hujan tinggi warga berbondong-bondong pindah ke lokasi-lokasi pengungsian menjadi pemandangan lazim di Ibu Kota negara ini.

Ketua Forum Alumni Pengairan (FAP) Dr Ir Hari Suprayogi, M.Eng mengungkapkan persoalan banjir hanya dapat diselesaikan apabila 13 sungai yang masuk ke dalam wilayah DKI dikembalikan fungsinya dengan konsekuensi hunian yang berada di bantaran harus direlokasi.

Fungsi sungai seharusnya dapat mengalirkan air dari hulu ke muara dengan lancar. Namun seiring berjalannya waktu, terjadi perubahan tata ruang di sepanjang sungai membuat debit air menjadi ekstrim yakni mengering di saat kemarau dan meluap saat hujan.

Kerusakan sungai-sungai di DKI Jakarta saat ini sedang dalam penanganan. Upaya yang dilakukan diantaranya dengan mengembalikan lebar dan ke dalaman sungai, mengurangi sedimentasi serta memanfaatkan seoptimal mungkin aliran sungai agar tak seluruhnya terbuang ke laut.

Pemerintah tengah mempercepat pembangunan Bendungan Ciawi, Kabupaten Bogor dan Sukamahi, Kabupaten Sukabumi. Kehadiran bendungan merupakan ikhtiar untuk mengubah daya rusak air menjadi kemaslahatan umat manusia.

Tak cukup dengan itu. Di sepanjang aliran sungai juga harus tersedia infrastruktur pengendali banjir dengan sistem drainase dan polder yang mumpuni.

Banyak inovasi yang dibangun agar air tak semuanya terbuang ke sungai salah satunya drainase vertikal yang digagas Pemprov DKI Jakarta. Sebenarnya drainase vertikal mengadopsi dari biopori hanya dibuat dengan diameter lebih besar.

Namun metode ini juga dianggap tak terlalu efektif di saat datang musim hujan, tanah jenuh akan air. Kondisi ini membuat drainase vertikal tidak mampu lagi menyerap genangan air dipermukaan.

Inovasi
CEO PT Katama Suryabumi, Kris Suyanto menyatakan sebagai perusahaan yang bergerak di bidang inovasi merasa prihatin dengan persoalan banjir di Ibu Kota sehingga tertarik untuk sekedar memberi sumbang saran melalui teknologi sistem pengendali banjir.

Katama Suryabumi dikenal sebagai pemilik inovasi konstruksi "sarang laba-laba" yang dirancang untuk bangunan-bangunan tahan gempa di Sumatera Barat, Bengkulu dan Aceh. Terkini, konstruksi ini dipakai untuk konstruksi Kampus Untirta di Sindangsari, Kabupaten Serang, yang belum lama ini diresmikan Presiden Joko Widodo.

Terkait penanganan banjir, Katama Suryabumi telah bekerjasama dengan penemu teknologi ramah banjir untuk dapat dipergunakan mengendalikan banjir di Jakarta dan daerah lain di Indonesia yang kerap dilanda banjir.

Penemu sistem pengendali banjir ini, Abdul Kadir dan Badransyah telah mematenkan teknologi temuannya ke Kemenkumham. Prinsip kerja dari teknologi ini adalah memasukkan air dari kali/sungai sebanyak-banyaknya dengan cepat ke dalam akuifer perut bumi dan menyimpannya sebagai cadangan (deposit) air.

Seperti di DKI Jakarta air tanah banyak dimanfaatkan warga untuk kebutuhan sehari-hari mulai dari air minum, memasak makanan, mencuci, hingga mandi dan lain sebagainya. Eksploitasi air tanah berlebihan ini membuat infiltrasi (rembesnya) air laut ke daratan.

Baca juga: Warga korban banjir Kampung Melayu terima bantuan renovasi hunian
Baca juga: Peneliti: Jakarta rentan banjir harus direspons dengan mitigasi tepat
Gambar desain teknologi ramah banjir (Foto HO Katama)

Mayoritas air tanah di Jakarta Utara bahkan sampai Jakarta Pusat sudah tak layak konsumsi. Tak hanya itu eksploitasi tanah berlebihan juga membuat permukaan air tanah mengalami penurunan (land subsidence). Hasil GPS Geodetic menunjukkan di Jakarta Utara laju penurunan tanah setiap tahunnya mencapai 12 sentimeter (cm).

Kondisi demikian bisa dicegah apabila air tanah yang dieksploitasi ini dikembalikan lagi ke dalam tanah. Teknologi ramah banjir ini memungkinkan air yang berlimpah saat musim hujan dikembalikan lagi ke dalam tanah dalam waktu singkat untuk menjadi tabungan saat kemarau.

Menurut Kris Suyanto, teknologi ramah banjir ini pernah diuji coba di Tb Simatupang Jakarta Selatan tepatnya berdekatan dengan lokasi Sekolah High Scope.

Seharusnya, uji coba teknologi ini berlangsung selama 20 tahun, setelah sebelumnya mendapat disposisi dari Pemprov DKI Jakarta. Ketika itu, Februari 2013, Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekda Provinsi DKI Jakarta masih dijabat Wiriyatmoko.

Setelah mendapat disposisi teknologi ramah banjir segera dibangun di lokasi yang ditunjuk yakni di suatu kawasan dekat dengan Sekolah High Scope. Mengingat sifatnya masih uji coba, pembiayaan masih ditanggung penemu dengan masa pekerjaan November 2013 hingga Maret 2014.

Selama uji coba itu, memang terbukti mampu mengatasi genangan yang kerap terjadi di kawasan itu. Sayang sebelum masa uji coba habis kawasan itu keburu dibangun jalan Tol Depok Antasari sehingga seluruh teknologi itu pun sudah lenyap dibalik jalan beton.

Efektif
Badransyah selaku penemu mengatakan teknologi ramah banjir yang dipergunakan berbeda dengan sumur vertikal yang dikembangkan Pemprov DKI Jakarta. Lubang yang dibuat untuk saluran air memiliki ke dalaman tertentu hingga menembus batu tempat cadangan air.

Teknologi ramah banjir ini menggunakan rangkaian pipa pralon yang disambung untuk mengalirkan air permukaan ke bawah tanah. Untuk mencapai kedalaman ideal sebelum dilakukan pengeboran dibuat tes sondir untuk mengetahui daya dukung tanah.

Baca juga: Warga bersihkan saluran air untuk cegah banjir
Baca juga: Puluhan Satpol PP Jaktim ikuti pelatihan penyelamatan banjir
Foto-foto uji coba teknologi ramah banjir (Foto HO Katama)

Kemudian yang tak dipikirkan dalam sistem drainase vertikal termasuk biopori adalah kemungkinan dinding tanah luruh sehingga mengakibatkan sumbatan yang menghambat air masuk ke dalam tanah.

Badran menjelaskan sistem ini dirancang sedemikian rupa sehingga kecil kemungkinan terjadinya penyumbatan. Bahkan air dipermukaan terlebih dahulu melalui berbagai proses penyaringan sehingga yang masuk ke dalam tanah benar-benar air yang bebas partikel.

Badran juga menyampaikan teknologi ramah banjir ini sudah melalui rangkaian uji coba sebelumnya. Salah satunya biaya operasi dan pemeliharaan. Setelah dihitung-hitung dengan sistem filter yang dibuat tidak butuh biaya dan waktu untuk perawatan.
Paten teknologi ramah banjir (Foto HO Katama)

Cukup menggunakan tenaga PPSU (pasukan oranye) yang sudah ada untuk melakukan perawatan. Perawatan juga tidak perlu menggunakan peralatan maupun keahlian khusus. Kendaraan pengangkut sampah berikut peralatan sudah cukup agar filter tetap terjaga untuk mengalirkan air.

Berdasarkan uji coba teknologi ini mampu menggelontorkan air ke dalam perut bumi dengan cepat. Sehingga saat musim hujan menjadi tabungan bagi air tanah. Sedangkan di saat kemarau dapat menjadi sumber air bersih bagi masyarakat Jakata yang masih menggunakan pompa.

Teknologi ramah banjir ini dapat diterapkan untuk wilayah-wilayah yang selama ini tergenang banjir. Untuk daya tampungnya dapat disesuaikan dengan debit air yang datang saat daerah itu banjir.

Belajar dari hal ini. Inovasi pengendalian banjir itu memang banyak ragamnya. Tinggal stakeholder (pemangku kepentingan) untuk memanfaatkannya.

Teknologi ramah banjir yang telah teruji dan memiliki paten sudah sepatutnya mendapat kesempatan. Apalagi inovasi dan penemuan teknologi banjir ini merupakan karya bangsa sendiri.
Pewarta : Ganet Dirgantara
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2021