Rusia bahas niat memproduksi peralatan militer di India

Rusia bahas niat memproduksi peralatan militer di India

Dokumentasi - Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) berjabat tangan dengan Perdana Menteri India Narendra Modi saat foto bersama menjelang pertemuan keduanya di Hyderabad House di New Delhi, India, Kamis (11/12/2014). Presiden Rusia Putin mengunjungi India dalam upayanya untuk menghidupkan kembali hubungan sejarah yang pudar selama bertahun-tahun serta mencoba memperbarui kerja sama energi, pertahanan, dan nuklir. ANTARA/REUTERS/Adnan Abidi/tm

New Delhi (ANTARA) - Rusia sedang membicarakan kemungkinan tentang produksi tambahan peralatan militernya di India, kata Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.

Ketika berbicara pada konferensi pers bersama dengan Menteri Luar Negeri India Subrahmanyam Jaishankar di New Delhi, Selasa, Lavrov tidak merinci jenis peralatan apa yang bisa dibuat di India.

Namun, para pejabat dari kedua negara mengatakan pemerintah mereka telah membahas selama beberapa tahun kemungkinan membuat helikopter militer Rusia di India.

"Kami telah mengonfirmasi tekad kami terhadap pengembangan kerja sama teknis-militer. (Kerja sama) ini memiliki rencana sendiri, dan prospek untuk produksi tambahan peralatan militer Rusia di wilayah India sedang dibahas," kata Lavrov. Ia menambahkan ada komisi antarpemerintah yang menangani masalah tersebut.

Meskipun perjanjian semacam itu akan sesuai dengan program make-in-India (dibuat di India--red) yang digagas Perdana Menteri India Narendra Modi, langkah itu dapat membuat marah Amerika Serikat.

Lavrov mengatakan AS telah berusaha untuk mencegah negara-negara membeli senjata Rusia. Tetapi, topik soal keberatan AS tidak muncul selama pembicaraannya dengan Jaishankar, yang berfokus pada pendalaman hubungan militer.

Washington telah memperingatkan bahwa New Delhi berisiko menghadapi sanksi jika India melanjutkan pembelian sistem rudal darat ke udara S-400 Rusia berdasarkan kesepakatan yang dicapai pada 2018, meskipun AS tidak membuat ancaman yang sama atas pembelian senjata India lainnya dari Rusia.

AS telah mendesak India untuk tidak membeli sistem pertahanan udara S-400 karena dapat memicu sanksi berdasarkan Undang-Undang Melawan Musuh Amerika Melalui Sanksi. Turki dikenai sanksi tersebut tahun lalu karena membeli peralatan yang sama.

India melakukan pembayaran awal sebesar 800 juta dolar AS (sekitar Rp11,6 triliun) pada 2019, dan paket pertama artileri peluru kendali diharapkan akan dikirim menjelang akhir tahun ini.

Sumber: Reuters

Baca juga: Putin: Pengiriman rudal S-400 ke India sesuai rencana

Baca juga: Rusia mulai kirim roket S-400 ke India pada akhir 2021

Baca juga: Iran dan Rusia gelar latihan militer gabungan di Samudera India


 

Rusia sukses uji coba peluncuran roket pengangkut Angara-A5

Pewarta : Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2021