BEI ajak pelaku fintech jajaki peroleh dana dari pasar modal

BEI ajak pelaku fintech jajaki peroleh dana dari pasar modal

Ilustrasi: Layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/aww.

Jakarta (ANTARA) - Komisaris PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Pandu Patria Sjahrir mendorong para pelaku industri teknologi finansial (fintech) untuk menjajaki peluang memperoleh dana melalui pasar modal.

"Saya berharap agar para penyelenggara fintech terdorong untuk menjajaki strategi penguatan permodalan perusahaan melalui pasar modal," ujar Pandu melalui keterangan di Jakarta, Kamis.

Menurut Pandu, secara umum perusahaan-perusahaan teknologi di Indonesia, termasuk fintech, sudah cukup matang untuk bisa go public.

Baca juga: BEI harapkan vaksinasi pelaku perbankan-pasar modal beri rasa aman

Meskipun demikian, ia menyadari bahwa pemahaman investor publik di Indonesia mengenai perusahaan teknologi masih perlu ditingkatkan.

Terkait dengan cara menilai perusahaan, misalnya, publik cenderung melihat berapa price to earning (PE), padahal terdapat cara-cara lain dalam melakukan penilaian. Sedangkan untuk regulasinya, saat ini BEI terus berdiskusi dengan OJK mengenai beberapa hal.

"Tapi satu hal yang ingin saya ingatkan, fintech di Indonesia akan terus mengalami pertumbuhan lebih banyak lagi, sehingga akan berperan sangat besar terutama dari sisi inklusi keuangan dan ini bisa menjadi masa depan Indonesia," kata Pandu.

Baca juga: BEI luncurkan empat terobosan baru inovasi edukasi digital

Pandu menekankan peningkatan edukasi, literasi, dan kolaborasi di antara para pemangku kepentingan, merupakan salah satu kunci dalam memajukan ekosistem fintech di Indonesia.

Survei Anggota Tahunan Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) 2019/2020 menunjukkan bahwa sekitar 28 persen perusahaan fintech mendapatkan permodalannya dari ekuitas swasta, 23 persen dari dana sendiri, 19 persen dari angel investor, dan 13 persen dari modal ventura.

Pemanfaatan bursa, khususnya melalui Initial Public Offering (IPO) sebagai salah satu opsi untuk mendukung permodalan penyelenggara fintech yang umum dilakukan diluar negeri, saat ini di Indonesia belum banyak digunakan.

Baca juga: Total dana kuartal I tumbuh, BEI optimistis dengan prospek IPO
Pewarta : Citro Atmoko
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021