Kemenko Perekonomian dorong peternakan sapi beralih ke basis komersial

Kemenko Perekonomian dorong peternakan sapi beralih ke basis komersial

Ilustrasi - Peternak merawat ternak sapinya pada kandang sapi koloni bantuan Bank Indonesia (BI) di Desa Oloboju, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/aww/pri.

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian mendorong peralihan paradigma peternakan sapi berbasis tradisional menuju komersial sebagai salah satu solusi jangka panjang pemenuhan kebutuhan daging sapi nasional.

"Maka dari itu nanti ke depannya ini perlu ada solusi jangka panjang. Pertama memang harus mengajak masyarakat menuju arah komersialisasi. Jadi yang selama ini peternakan sapi yang berbasis tradisional kita arahkan agar menuju komersialisasi tanpa meninggalkan budaya-budayanya," ujar Asisten Deputi Pengembangan Agrobisnis, Peternakan dan Perikanan Kemenko Perekonomian Pujo Setio dalam seminar daring di Jakarta, Senin.

Menurut dia, peternakan sapi rakyat berbasis tradisional sehingga para peternak lebih banyak menyimpan sapi atau kerbaunya dan pada saatnya akan dijual sesuai dengan kebutuhan.

"Oleh sebab itu ini menjadi solusi jangka panjang, dengan adanya peralihan paradigma pemeliharaan ternak sapi di masyarakat dari tradisional menjadi komersial," katanya.

Dengan beralihnya paradigma itu menjadi komersial yang disebut dengan pola-pola kemitraan korporasi di peternak sapi, Dengan demikian ada stok sapi siap potong yang sudah diketahui setiap tahunnya dari data-data populasi sapi ternak tersebut sehingga bisa dikonversi terkait dengan pasokan daging sapi untuk satu tahun.

"Ke depan kita juga perlu membangun sentra-sentra produksi ternak sapi di daerah-daerah. Kita masih memiliki lahan-lahan khususnya di wilayah Indonesia Timur," kata Pujo Setio.

Sentra-sentra produksi ternak sapi di Indonesia tersebar di berbagai wilayah, walaupun memang yang paling besar di Jawa Timur namun untuk sentra produksi di luar Jawa sedikit sekali.

Sebagai informasi saat ini sedang digagas Kabupaten Merauke, Papua sedang memperjuangkan adanya kawasan pengembangan ekonomi baru yakni kawasan ekonomi berbasis peternakan terintegrasi.

"Karena kami tahu Kabupaten Merauke potensial sekali dan wilayah tersebut sudah memiliki rumpun sapi sendiri. Ini besar potensinya dan satu peternak memiliki ratusan sapi," kata Asisten Deputi Pengembangan Agrobisnis, Peternakan dan Perikanan tersebut.

Jika hal itu digarap bersama-sama maka hal tersebut merupakan salah satu potensi sehingga kita mendapatkan sapi-sapi hidup atau daging sapi bisa berasal dari wilayah Indonesia Timur.

Daerah Indonesia Timur juga bisa menampung sapi-sapi bakalan yang diimpor dari Australia, di mana pada saat harganya murah bisa ditampung di Indonesia Timur.

Hal ini juga merupakan salah satu solusi jangka panjang ke depannya yang mungkin menjadi peluang bagi pelaku usaha, di mana tentunya daerah-daerah Indonesia Timur tersebut membutuhkan penjamin atau offtaker dan investasi agar daerah itu bisa berkembang bagi kawasan ekonomi khusus peternakan terintegrasi.

Baca juga: Pemerintah perlu perkuat infrastruktur peternakan daerah produksi sapi

Baca juga: Mentan:Peternakan sapi di Sukamara sangat berpotensi dikembangkan

Baca juga: Pemprov Sumsel akan jadikan OKU Timur lumbung sapi
Pewarta : Aji Cakti
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021