Saham Asia akan beragam, tertekan berita ekonomi AS dan lockdown Eropa

Saham Asia akan beragam, tertekan berita ekonomi AS dan lockdown Eropa

Ilustrasi - Pergerakan saham di Bursa Efek Tokyo, Jepang. ANTARA/REUTERS/ISSEI KATO/pri.

Washington (ANTARA) - Pasar saham Asia kemungkinan akan bergerak bervariasi pada perdagangan Kamis, setelah bursa saham global turun dan investor AS mempertimbangkan sektor pasar saham mana yang paling diuntungkan dari penguatan pertumbuhan.

Kekhawatiran tentang penguncian ekonomi yang diperpanjang di Eropa dan potensi kenaikan pajak AS juga membebani sentimen investor.

“Kenaikan suku bunga, ketidakpastian kebijakan perpajakan, kekhawatiran atas inflasi tetap menjadi perhatian utama investor. Namun, tidak satu pun dari tema-tema ini berbicara tentang meningkatnya selera atas risiko,” kata Peter Kenny dari Kenny's Commentary LLC and Strategic Board Solutions LLC di Denver.

“Kami melihat keuntungan besar tahun lalu berkinerja buruk di pasar yang lebih luas.”

Saham Eropa ditutup mendekati posisi terendah dua minggu, sementara harga minyak bangkit kembali dari penurunan tajam di awal pekan setelah salah satu kapal kontainer terbesar di dunia kandas di Terusan Suez. Pihak berwenang masih berusaha membersihkan kapal dari jalur pelayaran vital pada Rabu sore (24/3/2021).

Baca juga: Harga minyak melonjak 6 persen, setelah kapal kandas di Terusan Suez

"Meskipun industri kapal pesiar adalah bagian kecil dari pasar saham ... ada kemungkinan bahwa berita tersebut adalah pengingat tentang ancaman yang lebih luas yang masih ditimbulkan oleh COVID-19 terhadap seluruh narasi pembukaan kembali," kata Kepala Investasi Independent Advisor Alliance, Chris Zaccarelli, di Charlotte, Carolina Utara.

“Kami tidak meragukan bahwa ekonomi akan dibuka kembali secara substansial dari tahun ke tahun dan bahwa pertumbuhan PDB akan mengesankan, tetapi perlu diingat bahwa kami perlu mewaspadai pasar yang terlalu jauh mendahului fakta-fakta di lapangan.”

Indeks S&P/ASX 200 Australia kehilangan 0,18 persen di awal perdagangan, Indeks Hang Seng Hong Kong merosot 0,42 persen, dan Indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,39 persen.

Baca juga: IHSG ditutup jatuh 96,57 poin, mengikuti pelemahan bursa saham Asia

Saham-saham pasar negara berkembang kehilangan 1,91 persen. Indeks MSCI untuk saham Asia Pasifik di luar Jepang ditutup melemah 1,86 persen.

Di Wall Street, Indeks Dow Jones Industrial Average turun 3,09 poin atau 0,01 persen menjadi 32.420,06 poin, menyerahkan keuntungan awal bahkan ketika investor kembali ke sektor yang sensitif secara ekonomi didorong spekulasi pemulihan ekonomi AS, kata para analis.

Indeks Komposit Nasdaq anjlok 265,81 poin atau 2,01 persen menjadi 12.961,89 poin, sementara S&P 500 kehilangan 21,38 poin atau 0,55 persen menjadi 3.889,14 poin, tidak dapat menghentikan aksi jual hari sebelumnya karena investor mengesampingkan optimisme ekonomi oleh Ketua Federal Reserve (Fed) Jerome Powell dan Menteri Keuangan (Menkeu) Janet Yellen.

Pernyataan dari dua pejabat ekonomi teratas AS mencerminkan apa yang mereka katakan kepada Kongres sehari sebelumnya, dengan Powell mengatakan pada Rabu (24/3/2021) bahwa kasus yang paling mungkin adalah 2021 akan menjadi "tahun yang sangat, sangat kuat."

Baca juga: Wall Street ditutup jatuh, Indeks Nasdaq anjlok 265,81 poin

Powell mengatakan putaran kenaikan harga pasca-pandemi tidak akan memicu ledakan inflasi yang merusak.

"Untuk pertama kalinya dalam mungkin enam bulan, ada pertanyaan nyata yang diajukan tentang kecepatan dan jalur pemulihan ekonomi," kata Analis IG Markets, Kyle Rodda.

"Apa yang mungkin merupakan rasa puas diri tentang virus dan prospek penguncian telah memaksa pasar untuk secara fundamental menilai kembali percakapan tentang risiko ekonomi yang berjalan terlalu panas, tekanan inflasi, dan imbal hasil yang lebih tinggi."

Indeks STOXX 600 pan-Eropa naik 0,02 persen dan indeks MSCI yang melacak saham di seluruh dunia turun 0,90 persen.

Baca juga: Saham Hong Kong ditutup anjlok, Indeks Hang seng jatuh 2,03 persen

Baca juga: Saham Tokyo rugi 4 hari beruntun, tertekan naiknya kasus COVID Eropa


Investor telah fokus pada imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun, mempertimbangkan apakah ada ruang untuk menjalankan suku bunga jangka panjang, kata Kepala Strategi Global JPMorgan Asset Management, David Kelly.

“Kami tahu bahwa ekonomi siap untuk mulai benar-benar mengalami percepatan pada kuartal kedua,” kata Kelly. “Tapi kami belum melihat akselerasinya, jadi itulah yang kami tunggu.”

Dukungan untuk sebagian besar sesi berasal dari data yang menunjukkan aktivitas pabrik AS meningkat pada awal Maret karena pertumbuhan yang kuat dalam pesanan baru. Tetapi gangguan rantai pasokan memberikan tekanan biaya pada produsen, menjaga kekhawatiran inflasi tetap menjadi fokus.

“Kami harus memantau dan menunggu secara alami untuk melihat bagaimana hasilnya,” tambah Rodda dari IG.

Baca juga: Saham Spanyol untung 3 hari beruntun, Indeks IBEX naik 0,64 persen

Baca juga: Saham Jerman berbalik merosot, Indeks DAX 30 tergerus 0,35 persen


 
Pewarta : Apep Suhendar
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021