Keluarga berperan penting bantu vaksinasi lansia

Keluarga berperan penting bantu vaksinasi lansia

Lansia tengah menjalani kegiatan vaksinasi COVID-19 di Istora Senayan. (HO Pegadaian)

Jakarta (ANTARA) - Ahli vaksin dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Prof Sri Rezeki Hadinegoro mengemukakan keluarga memiliki peran penting untuk membantu vaksinasi COVID-19 bagi lansia terutama dalam melakukan pendaftaran daring (online).

"Sampai saat ini masih banyak peserta lansia belum ikut vaksin COVID-19 karena lebih memilih untuk menunggu dipanggil. Padahal pendaftaran saat ini menuntut peran aktif peserta vaksin. Di sini peran keluarga untuk membantu mendaftarkan," kata Sri dalam keterangan tertulis, Kamis.

Sri menilai program vaksinasi COVID-19 dengan sasaran lansia di kota-kota besar sudah bagus, baik sarana maupun akses seperti di Jakarta, Bandung, Surabaya serta kota-kota besar lainnya. Namun tetap harus didukung peran aktif masyarakat.

“Beberapa kasus tak ada yang bantu ngurus. Sebaiknya, anggota keluarga yang lebih muda ikut membantu," kata Sri.

Sri juga mengatakan masyarakat tak perlu khawatir adanya varian-varian baru virus COVID-19 yang sudah ditemukan di Indonesia. Semua virus pasti akan bermutasi.

“Dampak varian baru itu terhadap efek vaksin baru diketahui dalam jangka panjang. Yang jelas adanya varian tersebut jangan sampai menunda dan menghambat vaksinasi," kata Sri.

Baca juga: 55 kendaraan Satpol PP antar-jemput lansia di Jakarta Utara
Baca juga: Kelurahan Sukapura fasilitasi vaksinasi COVID-19 untuk lansia


Lantas terkait isu penggumpalan darah vaksin COVID-19 buatan AstraZeneca, Sri mengatakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menyatakan aman.

"Penggumpalan darah itu merupakan gejala yang kerap terjadi pada lansia dan penderita penyakit komorbid, seperti penyakit jantung, diabetes dan hiperkolesterol. Tidak divaksin saja, penderita berisiko mengalami penggumpalan darah. Vaksin apa saja (bukan hanya vaksin COVID-19) juga punya risiko tromboemboli,” katanya.

Ia meminta jangan sampai vaksinasi jadi tertunda-tunda akibat isu penggumpalan darah. Angka kasus penggumpalan akibat vaksin COVID-19 juga terbilang sedikit, sekitar satu persen.

“Lain halnya jika kasus penggumpalan darah meningkat dua kali setelah divaksinasi. Barulah kita perlu khawatir,” katanya.

Baca juga: Vaksinasi lansia dan pegawai BUMN tuai animo tinggi
Baca juga: 484 tokoh agama Jakarta Utara sudah jalani vaksin Covid-19


Sementara itu, Dokter Made Cock Wirawan yang berpraktik di Rumah Sakit Angkatan Darat Denpasar, Bali, mengatakan bahwa vaksinasi yang sudah dilakukan pemerintah sejauh ini sudah berjalan baik.

"Tenaga vaksinator juga jauh dari mencukupi, karena ada ribuan tenaga kesehatan yang diperbantukan dari TNI dan Polri," katanya.

Namun Made menilai vaksinasi ini masih jauh dari harapan karena jumlah vaksin yang sudah digunakan masih terbatas. Begitu pula proses vaksinasi yang relatif lambat bila dibandingkan dengan sasaran yang ingin dicapai dan kecepatan yang diharapkan.

Mengingat kekebalan yang ditimbulkan oleh vaksin ini belum diketahui, maka dibutuhkan kecepatan proses pencapaian kekebalan kelompok (herd immunity), kata dokter dengan akun twitter @blogdokter yang memiliki 1,8 juta pengikut.

Sejauh ini data Kemenkes RI per 17 Maret 2021 menunjukkan bahwa 1.431.713 dari 1.468.764 tenaga medis sebagai penerima vaksinasi tahap pertama, sudah mendapatkan vaksinasi tahap pertama atau sekitar 97,48 persen. Sedangkan yang sudah disuntik dosis kedua sebanyak 1.208.113 tenaga medis (82,25 persen).

Kemudian lansia yang menjadi penerima vaksin kedua berjumlah 21.553.118 orang. Namun yang sudah divaksin dosis pertama 836.628 (3,88 persen) dan yang menerima dosis kedua sebanyak 6.600 orang (0,03 persen).

Baca juga: Kementerian BUMN perluas vaksinasi lansia bukan warga DKI Jakarta
Baca juga: Lansia diimbau tak ragu vaksinasi COVID-19


Sementara itu, penerima vaksin tahap kedua yang berasal dari kelompok pekerja publik ditargetkan sebanyak 17.327.169 orang. Dari jumlah tersebut 2.436.907 orang sudah divaksin dosis pertama (14,06 persen) dan sebanyak 661.427 orang yang baru divaksin dosis kedua (3,82 persen).

Bila ditotal, dari tiga kelompok tadi yang berjumlah 40.349.051 target, baru 4.705.248 orang yang sudah disuntik vaksin dosis pertama (11,66 persen) dan 1.876.140 orang (4,65 persen) yang sudah diinjeksi vaksin dosis kedua.

Upaya pemerintah untuk meningkatkan jumlah orang divaksinasi terus dilakukan, seperti dengan memperbanyak lokasi vaksinasi dan menggandeng dunia usaha untuk melakukan vaksinasi "drive thru".

Sampai sekarang sekitar 40 juta dosis sudah masuk ke Indonesia, baik dalam bentuk dosis maupun berbentuk bahan baku (bulk). Dengan jumlah dosis sebanyak itu diharapkan proses vaksinasi COVID-19 berjalan lancar

Selain itu juga pemerintah dan dunia usaha mendatangkan sejumlah vaksin COVID-19 dari luar negeri, baik melalui bilateral maupun multilateral seperti lewat lembaga internasional. Antara lain dari Sinovac dan Sinopharm (Cina), Moderna dan Pfizer (Amerika Serikat) dan AstraZeneca (Inggris). Belum lagi ada berbagai tawaran dari beberapa produsen vaksin lain, seperti vaksin Sputnik V dari Rusia.

Sementara itu dari dalam negeri, sejumlah peneliti kini mengembangkan vaksin Merah Putih dan vaksin Nusantara yang bertujuan membantu pemerintah dalam penyediaan vaksin sehingga dapat mempercepat penanggulangan pandemi COVID-19.
Pewarta : Ganet Dirgantara
Editor: Sri Muryono
COPYRIGHT © ANTARA 2021