Saham Asia diperkirakan ikuti tren Wall Street, fokus beralih ke China

Saham Asia diperkirakan ikuti tren Wall Street, fokus beralih ke China

Foto dokumen: Seorang pria berdiri di jembatan layang dengan papan elektronik yang menunjukkan indeks saham Shanghai dan Shenzhen, di distrik keuangan Lujiazui di Shanghai, China 6 Januari 2021. ANTARA/REUTERS/Aly Song

New York (ANTARA) - Pasar saham Asia diperkirakan akan mengikuti tren kenaikan indeks Wall Street pada Rabu, ketika penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS meredakan kekhawatiran tentang lonjakan inflasi, meskipun fokus akan beralih ke pasar China di tengah kekhawatiran pengetatan kebijakan pemerintah negara ini.

Indeks S&P/ASX 200 Australia menguat 0,47 persen di awal perdagangan. Indeks berjangka Nikkei 225 Jepang naik tipis 0,07 persen, indeks berjangka Hang Seng Hong Kong meningkat 1,17 persen, dan indeks berjangka E-mini untuk S&P 500 naik 0,10 persen.

"Ini terlihat seperti pembukaan yang cukup positif didasarkan pada keunggulan kuat Wall Street," kata analis IG Markets, Kyle Rodda. "Perhatian sebenarnya adalah ketika pasar-pasar tunai China dibuka - apakah kita dapat melihat arah baru dari dasar tekanan tentang stabilitas keuangan di China."

Pada Selasa (9/3/2021), indeks acuan Komposit Shanghai China berada di tebing koreksi karena investor bergumul dengan prospek kebijakan yang lebih ketat dan pemulihan ekonomi yang melambat.

Dengan memperhatikan lelang Obligasi AS tiga tahun, 10 tahun dan 30-tahun senilai 120 miliar dolar AS minggu ini, imbal hasil obligasi pemerintah AS turun setelah penjualan surat utang AS tujuh 7 tahun yang lemah mendorong lonjakan imbal hasil dua minggu lalu diikuti oleh lelang ringan lainnya minggu lalu..

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun yang dijadikan sebagai acuan, turun menjadi 1,5281 persen dari 1,544 persen pada Selasa sore (9/3/2021).

Lelang surat utang AS tiga tahun senilai 58 miliar dolar AS pada Selasa (9/3/2021) diterima dengan baik, dengan tes berikutnya dari minat investor terhadap surat utang pemerintah dalam bentuk lelang obligasi AS 10-tahun dan 30-tahun pada pekan ini.

Di Wall Street, masing-masing indeks utama ditutup lebih tinggi, dipimpin oleh kenaikan hampir empat persen di Nasdaq, memberikan indeks teknologi hari terbaiknya sejak 4 November.

Indeks telah sangat rentan terhadap kenaikan suku bunga, dan penurunan pada Senin (8/3/2021) meninggalkannya Nasdaq anjlok lebih dari 10 persen dari penutupan tertinggi 12 Februari, mengonfirmasi apa yang secara luas dianggap sebagai koreksi.

“Hari ini (imbal hasil) 10-tahun turun sedikit, dan itu mengurangi tekanan valuasi, jadi teknologi berkinerja baik. Pasar hampir merasa nyaman pada tingkat suku bunga ini,” kata Kristina Hooper, kepala strategi pasar global di Invesco di New York.

Indeks Dow Jones Industrial Average, setelah sebelumnya melampaui 32.150 poin, naik 0,1 persen menjadi berakhir pada 31.832,74 poin, S&P 500 naik 1,42 persen dan Komposit Nasdaq melonjak 3,69 persen.

Di Eropa, saham-saham ditutup lebih tinggi setelah memperpanjang keuntungan dari sesi terbaik mereka dalam empat bulan sehari sebelumnya, ketika kenaikan saham perusahaan minyak dan utilitas membantu mengatasi kerugian pada penambang.

Peluncuran vaksin COVID-19 yang lebih cepat di beberapa negara dan paket stimulus AS senilai 1,9 triliun dolar AS membantu mendukung prospek ekonomi global yang lebih cerah, kata Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD), saat menaikkan perkiraan pertumbuhan 2021.

Di pasar valuta asing, indeks dolar mundur dari level tertinggi tiga setengah bulan, memungkinkan mata uang berisiko untuk bergerak lebih tinggi.

Indeks dolar turun 0,415 persen, dengan euro turun 0,01 persen menjadi 1,1897 dolar AS. Dolar Australia naik 0,06 persen terhadap greenback pada 0,772 dolar AS. Yuan China di luar negeri menguat terhadap greenback di 6,5158 per dolar AS.

Harga minyak mundur dari tertinggi awal dalam perdagangan berombak, dengan Brent merosot kembali ke angka 68 dolar AS karena investor mempertimbangkan meredanya kekhawatiran atas gangguan pasokan di Arab Saudi dengan kemungkinan terbatasnya pasokan dari OPEC+.

Minyak mentah berjangka AS ditutup pada 64,01 dolar AS per barel, turun 1,04 dolar AS atau 1,60 persen. Minyak mentah berjangka Brent ditutup pada 67,52 dolar AS per barel, turun 72 sen atau 1,06 persen.

Emas melonjak lebih dari dua persen karena penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan dolar yang lebih lemah, melakukan pemulihan yang kuat dari level terendah sembilan bulan yang dicapai di sesi sebelumnya. Emas berjangka AS ditutup naik 2,3 persen menjadi 1.716,90 dolar AS.

Baca juga: Saham Asia diprediksi menguat ketika pasar obligasi kembali tenang
Baca juga: Bursa saham Asia dibuka menguat, kebijakan Fed tenangkan pasar
Baca juga: Pasar saham Asia tawarkan sinyal beragam, investor cerna stimulus
Pewarta : Apep Suhendar
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021