IESR paparkan hambatan pengembangan EBT di Indonesia

IESR paparkan hambatan pengembangan EBT di Indonesia

Ilustrasi: Warga menunjukkan angka amperemeter listrik yang dihasilkan dari PLTS atap di Pati, Jawa Tengah, Kamis (11/2/2021). (ANTARA/Sugiharto purnama)

Jakarta (ANTARA) - Institute for Essential Services Reform (IESR) memaparkan serangkaian hambatan pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) di Indonesia yang tumbuh di bawah 10 persen per tahun.

“Dari hasil kajian kami dalam lima tahun terakhir hanya tumbuh rata-rata 400 megawatt per tahun, bahkan 2020 hanya 187 megawatt lebih rendah daripada rata-rata lima tahun sebelumnya,” kata Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa di Jakarta, Senin.

Ia mengatakan inkonsistensi kebijakan dan regulasi yang selama ini menjadi kendala utama harus segera dibenahi agar prospek energi hijau dapat menarik pelaku dunia usaha.

Mengacu pada target KEN dan RUEN dalam Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2014, maka energi hijau seharusnya bisa tumbuh 3-4 GigaWatt (GW) per tahun.

Baca juga: Dirjen ESDM: PLTS opsi terbaik kejar bauran EBT dan elektrifikasi

“Regulasi yang tidak terlalu suportif untuk pengembangan EBT membuat minimnya proyek-proyek yang bankable,” kata Fabby Tumiwa.

Lembaga keuangan masih memandang sektor ini punya resiko tinggi akibat hambatan kebijakan dan regulasi, sehingga ketersediaan modal menjadi terbatas yang berakibat rendahnya jumlah proyek energi hijau.

Fabby melanjutkan bahwa peta potensi energi hijau harus dievaluasi ulang dengan melihat potensi sumber daya lokal yang ada di masyarakat.

Baca juga: DPR ingin RUU Energi Baru dan Terbarukan rampung tahun ini

Kajian IESR menyebutkan potensi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) apabila mempertimbangkan ketersediaan lahan dan intensitas radiasi matahari di Indonesia, maka total potensi energi surya dapat mencapai 9.000 GW.

Selanjutnya, teknologi PLTS atap di bangunan rumah di seluruh Indonesia dengan mempertimbangkan luas atap, intensitas matahari, dan shading dapat menghasilkan energi sebesar 655 GW. Kemudian, potensi biomassa dari limbah agrikultur mampu menghasilkan sekitar 45 GW.  Sementara menurut data Kementerian ESDM, potensi energi hijau di Indonesia tidak lebih dari 500 GW.

“Indonesia memiliki potensi EBT yang sangat besar hanya saja itu belum dipetakan secara optimal berdasarkan data-data sumber daya yang ada, terkhusus versi pemerintah,” kata Fabby Tumiwa.

Baca juga: Wapres: Optimalkan potensi EBT di dalam negeri

Baca juga: Kementerian ESDM: EBT dalam bauran energi hanya capai 11,51 persen


 

Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021