Perlunya memangkas sampah plastik belanja online

Perlunya memangkas sampah plastik belanja online

Aktivis lingkungan memunguti sampah plastik saat mengkampanyekan #2021stopmakanplastik di pesisir Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (25/2/2021).  ANTARA FOTO/Didik Suhartono/aww.

Jakarta (ANTARA) - Indonesia ingin terbebas dari sampah plastik. Setidaknya, negara bertekad ingin mengelola sampah dengan baik dan benar hingga 100 persen pada 2025 mendatang.

Sejumlah langkah sudah diambil termasuk mengurangi penggunaan sampah di ritel sampai pasar tradisional. Namun, sampah plastik juga banyak dihasilkan dari kemasan pembungkus dari belanja online.

Sementara konsumen tidak diberi pilihan jenis pembungkus, para pelapak di e-commerce masih membungkus barang dagangannya dengan pembungkus plastik yang akhirnya akan menumpuk di rumah-rumah konsumen.

Kepala Sub Direktorat Barang dan Kemasan Direktorat Pengelolaan Sampah KLHK, Ujang Solihin Sidik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan bahwa sampah plastik yang dihasilkan dari kegiatan berbelanja online harus segera dipangkas.

"Kami akan segera memanggil seluruh marketplace dan pengusaha logistik untuk melakukan upaya pengurangan sampah plastik dari online shopping, itu sudah jadi agenda kami," kata Ujang Solihin Sidik beberapa waktu lalu.

Baca juga: Georgie Manuhuwa, si pemburu sampah plastik di Ambon

Baca juga: Praktik gugatan "citizen law suit" dalam isu keberlanjutan lingkungan


Sementara itu Tiza Mafira, Direktur Executive Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik berharap ke depan e-commerce akan memberi pilihan bahan pembungkus barang yang dibeli konsumen.

"Kita pengin para penyedia platform e-commerce memberi pilihan kepada konsumen, misalnya apa pakai buble wrap, apa pilih pembungkus plastik, apa pilih pakai cable-tie," kata Tiza.

Menurut dia, platform pengiriman barang online seperti yang didukung oleh Gojek dan Grab sudah memberikan pilihan tersebut.

"Grab dan Gojek sudah menggunakan tas guna ulang dan ada tombol pilihan apakah konsumen memilih tanpa sendok dan garpu plastik, tapi sepertinya memang kurang konsisten. Hanya sekian persen vendor mereka yang menggunakan fitur itu, sebaiknya itu diperbesar saja," kata dia.

E-commerce mulai bergerak

Ekhel Chandra Wijaya, External Communications Senior Lead Tokopedia mengatakan pihaknya masih mempelajari tentang kemungkinan pemberlakuan aturan pengurangan pembungkus plastik untuk pelapak di e-commerce. Di sisi lain, Tokopedia mengaku akan selalu menaati imbauan pemerintah, termasuk yang berkaitan dengan pengurangan sampah plastik.

"Tokopedia terus mendukung masyarakat untuk berperan aktif dalam mengurangi konsumsi plastik. Mulai dari lingkungan kantor misalnya, Tokopedia tidak menyuguhkan botol plastik sekali pakai kepada semua tamu yang hadir, juga terus mengimbau seluruh Nakama (karyawan Tokopedia) mengurangi penggunaan plastik," kata Ekhel.

Tokopedia juga secara konsisten memberikan panggung kepada para pelaku usaha lokal, termasuk mereka yang mengusung produk berkonsep ramah lingkungan.

Contohnya, Custombox Indonesia, salah satu penggiat usaha yang menawarkan solusi kotak kemasan yang terbuat dari kertas kraft hasil daur ulang sehingga lebih ramah lingkungan untuk pebisnis dari berbagai bidang, mulai dari makanan, fesyen hingga kecantikan.

"Selain itu, ada Nutrifood melalui Nutrimart, yang juga berkomitmen menjalankan bisnis ramah lingkungan dengan berbagai inisiatif terkait pengelolaan sampah, salah satunya dengan menempatkan dropbox sampah kemasan kertas, plastik dan kaca di berbagai wilayah Jabodetabek," katanya.

Tokopedia juga mengimbau masyarakat menggunakan ulang kantong plastik atau kardus sebagai salah satu upaya mengurangi konsumsi plastik dalam kehidupan sehari-hari sekaligus menjaga keberlangsungan lingkungan.

Upaya bersama

Sampah, utamanya sampah plastik masih menjadi pekerjaan rumah bagi bangsa Indonesia meski pemerintah sudah menetapkan sejumlah langkah strategis dalam pengelolaan sampah.

Pemerintah sudah mencanangkan peta jalan (roadmap) Pengelolaan Sampah Nasional lewat sejumlah kebijakan termasuk Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategis Nasional Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.

Serta kebijakan pengurangan sampah di industri yang dipetakan melalui Peraturan Menteri LHK Nomor 75 Tahun 2019 tentang Peta Jalan Pengurangan Sampah oleh Produsen.

Targetnya ambisius, pemerintah ingin bisa mengelola sampah dengan baik dan benar hingga 100 persen pada 2025 mendatang.

Tentunya, target itu memerlukan usaha bersama dari semua kalangan baik pemerintah, masyarakat, pengusaha hingga para pelaku industri.

Ada tiga pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah guna mencapai target tersebut yakni minim sampah, mengurangi sampah plastik dengan mengurangi penggunaan bahan-bahan plastik.

"Jumlahnya 30 persen dari sisi pengurangan, lalu pendekatan kedua adalah sirkular ekonomi yaitu bagaimana sampah plastik bisa didaur ulang sehingga pada akhirnya bisa suplai kebutuhan bahan baku plastik dalam negeri yang akhirnya bisa menciptakan peluang tenaga kerja. Yang ketiga, sebanyak 70 persen dari sisi penanganan. Bagaimana kita memanfaatkan teknologi tinggi misalnya untuk memilah sampah untuk memanfaatkannya sebagai daya listrik," kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Kementrian Perdagangan Syailendra.

Berdasarkan data KLHK, setidaknya sudah ada 21 Propinsi dan 353 Kabupaten/Kota yang telah menetapkan dokumen Kebijakan dan Strategi Daerah (JAKSTRADA) dalam pengelolaan sampah sesuai amanat Peraturan Presiden Nomor 97 tahun 2017, dengan target pengelolaan sampah 100 persen pada tahun 2025.

Selain itu sebanyak 30 Pemerintah Daerah telah menerbitkan kebijakan pembatasan sampah, khususnya sampah plastik sekali pakai.

Langkah tersebut secara signifikan mendorong perubahan perilaku masyarakat, serta para produsen.

Total produksi sampah nasional pada tahun 2020 saja mencapai 67,8 juta ton. Artinya, ada sekitar 185.753 ton sampah dihasilkan oleh 270 juta penduduk Indonesia setiap hari.

Dengan kata lain, setiap penduduk Indonesia memproduksi kurang lebih 0,68 kilogram sampah per hari.

Angka tersebut meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Pada 2018 saja, produksi sampah nasional sudah mencapai 64 juta ton dari 267 juta penduduk.

Sampah memang jadi urusan pelik, Indonesia pernah mengalami bencana akibat terlalu abai soal sampah. Tahun 2005, gunung sampah seluas 200 meter dengan tinggi 60 meter terguyur hujan deras meledak akibat akumulasi gas metan dan longsor menerjang tubuh pemulung malang.

Setidaknya 150 orang tewas dalam tragedi mengenaskan di TPA Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan. Peristiwa memilukan hari itu lantas dijadikan pengingat bagi bangsa ini agar lebih peduli dengan sampah. Tanggal 21 Februari kini diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN).

Bagaikan dua sisi mata uang, sampah bisa mematikan sekaligus bisa jadi penuh manfaat jika dikelola dengan baik. Butuh usaha bersama dari berbagai pihak agar sampah di negeri ini bisa jadi ladang manfaat.

Baca juga: KLHK dorong perubahan perilaku terkait pengelolaan sampah

Baca juga: Kemenko Maritim tekankan pentingnya penanganan sampah dari hulu

Baca juga: Survei temukan mayoritas warga paham dampak plastik ke lingkungan
Pewarta : Ida Nurcahyani
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021