Bangladesh "tidak berkewajiban" menerima pengungsi Rohingya

Bangladesh

Makanan dibagikan kepada pengungsi Rohingya di kapal angkatan laut saat mereka menuju pulau Bhasan Char di distrik Noakhali, Bangladesh, Selasa (29/12/2020). REUTERS/Mohammad Ponir Hossain/aww/cfo (REUTERS/MOHAMMAD PONIR HOSSAIN)

Dhaka (ANTARA) - Bangladesh "tidak berkewajiban" untuk melindungi 81 pengungsi Muslim Rohingya yang terapung selama hampir dua minggu di Laut Andaman dan dibantu oleh negara tetangga India, kata Menteri Luar Negeri Bangladesh AK Abdul Momen.

"Mereka bukan warga negara Bangladesh dan faktanya, mereka adalah warga negara Myanmar. Mereka ditemukan 1.700 kilometer jauhnya dari wilayah maritim Bangladesh dan oleh karena itu, kami tidak memiliki kewajiban untuk menampung mereka," kata Momen, yang berada di Amerika Serikat, kepada Reuters.

Penjaga pantai India menemukan korban selamat dan delapan orang tewas berdesakan di atas kapal penangkap ikan dan berusaha mengatur agar Bangladesh menyelamatkan mereka, kata pejabat India pada Jumat (26/2). Saat memberi makan para pengungsi dan memberi mereka air, India tidak berencana membawa mereka ke darat.

Tetapi Momen mengatakan bahwa Bangladesh mengharapkan India, negara terdekat, atau Myanmar, negara asal Rohingya, untuk menerima mereka.

"Mereka terletak 147 kilometer dari wilayah India, 324 kilometer dari Myanmar," kata dia melalui telepon, menambahkan bahwa negara dan organisasi lain harus mengurus para pengungsi.

Pejabat kementerian luar negeri India tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar.

New Delhi tidak menandatangani Konvensi Pengungsi 1951, yang menjelaskan hak pengungsi dan tanggung jawab negara untuk melindungi mereka. Negara itu juga tidak memiliki undang-undang yang melindungi pengungsi, meskipun saat ini menampung lebih dari 200.000 orang, termasuk beberapa warga Rohingya.

Lebih dari 1 juta pengungsi Rohingya dari Myanmar yang mayoritas beragama Buddha tinggal di kamp-kamp yang padat di Bangladesh yang mayoritas beragama Muslim, termasuk puluhan ribu orang yang melarikan diri setelah militer Myanmar melakukan tindakan keras mematikan pada 2017.

Para penyelundup sering memikat pengungsi Rohingya dengan menjanjikan mereka pekerjaan di negara-negara Asia Tenggara seperti Malaysia.

Para pengungsi telah hanyut di perairan internasional setelah meninggalkan Bangladesh selatan pada 11 Februari dengan harapan mencapai Malaysia.

Pada Sabtu, mereka berada di bawah bantuan dan pengawasan India ketika para pejabat mengadakan pembicaraan untuk mengembalikan mereka ke Bangladesh.

Kapal yang berlayar dari kamp pengungsi Cox's Bazar yang besar itu membawa 56 perempuan, delapan anak perempuan, 21 laki-laki, dan lima laki-laki.

Banyak dari mereka yang selamat, menurut pejabat India, sakit dan menderita dehidrasi ekstrim karena kehabisan makanan dan air setelah mesin kapal mati selama empat hari dalam perjalanan mereka.

"Apakah Bangladesh telah diberi kontrak dan tanggung jawab global untuk mengambil dan merehabilitasi semua Rohingya atau manusia perahu di dunia? Tidak, tidak sama sekali," kata Momen.

Momen mengatakan badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNHCR) juga harus bertanggung jawab karena sekitar 47 orang di kapal memegang identitas dari kantor UNHCR di Bangladesh, yang menyatakan bahwa mereka adalah warga negara Myanmar yang mengungsi.

"Jika (para pengungsi) adalah pemegang kartu UNHCR, mengapa mereka mengizinkan para penyelundup membawa pemegang kartu mereka untuk terapung-apung di laut lepas yang menyebabkan kematian?"

Pejabat UNHCR tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar.

Sumber: Reuters
Pewarta : Yashinta Difa Pramudyani
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2021