Maharesigana UMM tangani psikososial pengungsi banjir-longsor Nganjuk

Maharesigana UMM tangani psikososial pengungsi banjir-longsor Nganjuk

Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melakukan pendampingan anak-anak penyintas bencana banjir dan longsor di Nganjuk dengan pendekatan psikososial. ANTARA/HO-UMM

Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) membentuk dua tim yang diberangkatkan dalam dua gelombang untuk memberikan dukungan psikososial para pengungsi banjir dan tanah longsor di Kabupaten Nganjuk.

"Setiap tim terdiri dari 5 mahasiswa dari berbagai fakultas. Fokus mereka pada kegiatan psikososial baik untuk orang dewasa maupun anak-anak,” kata Rindya Fery Indrawan, Ketua Maharesigana UMM yang dihubungi di Malang, Jumat.

Banjir dan tanah longsor yang terjadi di Dusun Selopuro, Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk 14 Februari lalu, tidak hanya membawa kerugian materi bagi para korban. Secara psikologi, baik anak-anak maupun orang dewasa juga mengalami dampak dari bencana tersebut.

Baca juga: Mensos tinjau pengungsian warga terdampak tanah longsor di Nganjuk

Koordinator Tim Psikososial Kelompok I, Ahmad Hendra Purwanto mengungkapkan setelah melakukan asesmen selama 3 hari di tempat pengungsian, ditemukan para pengungsi menyampaikan banyak keluhan, baik secara fisik maupun kondisi psikologi. Mulai dari ketakutan, rasa khawatir, gelisah, bahkan rasa bersalah yang sangat dalam.

“Ada seorang nenek yang terus menyesali keputusannya membiarkan cucunya pulang ke rumah orang tuanya. Si nenek bilang, seandainya saja ia menahan si cucu, mungkin hingga kini cucunya masih hidup. Tidak terkubur longsor bersama ayah ibunya,” ujar Hendra.

Kondisi seperti ini yang menjadi fokus tim untuk melakukan Psychological First Aid (PFA) atau tindakan humanis dan memberikan dukungan serta membantu seseorang yang menderita dan membutuhkan bantuan akibat bencana alam.

“Tujuannya menghindari kondisi psikologis yang lebih buruk lagi. Jadi menenangkan, memberikan rasa aman dan nyaman. Kalau kebutuhan fisik sudah tercukupi dari pemerintah daerah yang sangat tanggap,” tambah Hendra.

Tidak hanya bagi orang dewasa, tim Maharesigana UMM juga fokus pada anak-anak yang juga mengalami tantangan tersendiri. Mereka didera rasa bosan dan juga keinginan yang kuat untuk dapat beraktivitas seperti biasa, padahal keadaan masih belum memungkinkan.

“Layanan dukungan psikososial untuk anak-anak kami berikan dengan membuat jadwal bagi mereka agar tidak jenuh. Jika sebelumnya banyak komunitas atau lembaga lain terus mengajak bermain, kini waktunya kami atur. Kasihan kalau diajak bermain terus, anak-anak juga akan lelah dan itu tidak baik untuk imun mereka, apalagi di masa pandemi seperti ini,” tambahnya.

Hendra menguraikan penjadwalan dilakukan meliputi kegiatan senam di pagi hari, asesmen, istirahat, dan mengaji. Ragam ini penting agar anak-anak tidak merasa jenuh.

“Baik pengungsi dan tim harus mendapat istirahat yang cukup, sehingga kondisi tubuh tetap terjaga. Selain itu, kondisi fisik dan spiritual juga tetap harus diperhatikan. Untuk ibu-ibu akan didatangkan ustadzah untuk mengajar mengaji,” ujarnya.

Baca juga: SAR evakuasi 26 korban tertimbun longsor di Nganjuk

Sementara itu, pembina Maharesigana UMM, Zakarija Achmat menyampaikan pihaknya mempersiapkan dengan baik untuk pemberangkatan para relawan. Selain mendapat pembekalan dari Laboratorium Psikologi Terapan Psikososial UMM tentang bantuan psikologis awal, kesehatan para relawan juga menjadi fokus.

"Kita kirimkan 10 relawan. Lima orang selama sepekan, nanti ditarik, diganti tim yang lain karena masih dalam situasi seperti ini. Itu pun harus melalui protokol. Begitu sampai langsung melakukan tes cepat dan tes usap antigen. Jangan sampai kedatangan para relawan justru menimbulkan klaster baru," tuturnya.

UMM, lanjutnya, berharap keberadaan para relawan Maharesigana di sana dapat meringankan beban para korban banjir dan tanah longsor. Utamanya dalam sisi psikologis, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa.

Ia berharap kehadiran relawan Maharesigana UMM dapat meringankan beban psikologis para penyintas, apalagi relawan juga melakukan pendekatan psikososial. Misalnya, karena para orang dewasa fokus untuk mengembalikan keadaan pada situasi normal, anak-anak menjadi tidak terlalu terperhatikan termasuk dalam pendidikan.

"Teman-teman relawan akan membantu proses pendidikan ini tetap berjalan. Bukan berati menggantikan guru, tapi lebih secara umum. Contohnya seperti story telling," pungkasnya.

Baca juga: SAR temukan dua lagi korban tanah longsor Nganjuk
Baca juga: BNPB sebut bencana longsor di Nganjuk dipicu intensitas hujan tinggi
Pewarta : Endang Sukarelawati
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021