Satgas COVID-19: Keluarga tangguh kunci kesehatan jiwa

Satgas COVID-19: Keluarga tangguh kunci kesehatan jiwa

Anggota tim penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) merawat tanaman sayur sawi di kawasan Kampung Tangguh Semeru, Desa Ngale, Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Minggu (7/2/2021). ANTARA FOTO/Siswowidodo/rwa.

Jakarta (ANTARA) - Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Sonny Harry B Harmadi mengatakan keluarga tangguh merupakan kunci untuk menjaga kesehatan jiwa selama pandemi COVID-19.

"Dalam kondisi pandemi, yang menjadi orang kita adalah keluarga. Untuk menjaga kesehatan fisik dan jiwa, keluarga memiliki peran yang pertama dan utama," kata Sonny dalam acara bincang-bincang Satgas Penanganan COVID-19 yang diikuti melalui siaran langsung akun Youtube BNPB Indonesia dari Jakarta, Kamis.

Sonny mengatakan selama pandemi, ketika kegiatan dan pergerakan dibatasi, seseorang sangat rentan merasa bosan, jenuh, cemas, takut, dan lain-lain. Dengan segala keterbatasan tersebut, jangan sampai kesehatan jiwa terganggu dan berdampak pada kesehatan fisik.

Baca juga: Anak dari keluarga tangguh menjadikan negara kuat

"Kesehatan fisik sangat penting agar tidak mudah terinfeksi COVID-19. Karena itu, keluarga tangguh harus dibangun," tuturnya.

Sonny mengatakan kesehatan fisik maupun kesehatan jiwa saling mempengaruhi. Fisik yang sehat akan berdampak pada jiwa yang sehat, begitu pula sebaliknya, jiwa yang sehat akan berdampak pada fisik yang sehat.

Pandemi COVID-19, yang telah mengubah tatanan kehidupan manusia di seluruh dunia, memaksa semua orang beradaptasi dengan keadaan.

"Pandemi COVID-19 membuat aktivitas dan mobilitas orang terbatas sehingga ada kecenderungan tidak hanya kesehatan fisik saja yang terancam, tetapi juga kesehatan jiwa," katanya.

Direktur Centre for Public Mental Health Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Diana Setiyawati mengatakan ilmu kesehatan sebelumnya memang berpikir bahwa penyakit fisik bisa berdampak pada kesehatan psikis.

"Namun, riset terbaru menunjukkan bahwa penyakit psikis bisa menyebabkan sakit fisik, bisa juga penyakit fisik menyebabkan sakit psikis. Jadi bisa keduanya saling mempengaruhi," jelasnya.

Baca juga: Menteri PPPA: Perempuan Bali tangguh hadapi pandemi COVID-19
Baca juga: BNPB: Pariaman harus wujudkan keluarga tangguh bencana
Pewarta : Dewanto Samodro
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021