Kemenkes: Pembentukan antibodi butuh waktu pascavaksinasi dosis kedua

Kemenkes: Pembentukan antibodi butuh waktu pascavaksinasi dosis kedua

Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi. (tangkapan layar)

Jakarta (ANTARA) - Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 dari Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan bahwa pembentukan antibodi usai divaksinasi dosis kedua membutuhkan waktu agar bisa secara optimal memberikan perlindungan pada manusia terhadap virus SARS CoV 2.

Nadia dalam konferensi pers yang dipantau secara daring di Jakarta, Senin, menerangkan bahwa suntikan dosis pertama pada vaksinasi COVID-19 bertujuan untuk memicu respons kekebalan awal dan suntikan dosis kedua bertujuan untuk menguatkan respons antibodi yang sebelumnya sudah terbentuk.

Baca juga: Kemenkes: Vaksinasi dosis kedua tingkatkan antibodi hingga 99 persen

"Suntikan kedua merupakan booster untuk kekebalan lebih optimal. Sehingga, imunitas baru yang terbentuk setelah 28 hari setelah penyuntikan dosis kedua. Jadi, memang butuh waktu untuk tubuh kita membentuk antibodi yang optimal," kata Nadia.

Nadia menerangkan meskipun seseorang sudah divaksin COVID-19, masih tetap memiliki risiko terpapar dan tertular COVID-19. Namun, dengan vaksinasi diharapkan tubuh menjadi lebih siap untuk melawan virus penyebab COVID-19, sehingga penyakitnya bisa dihindari, atau jika jatuh sakit tidak mengalami gejala berat atau parah.

"Kami sampaikan bahwa dengan adanya vaksinasi, kita masih memiliki kewajiban untuk tetap disiplin dan menerapkan protokol kesehatan. Karena, selain untuk menjaga diri sendiri, masih dibutuhkan waktu bersama masyarakat Indonesia untuk mencapai kekebalan kelompok," kata dia.

Dia mengimbau agar masyarakat terus menerapkan protokol kesehatan 3M, membatasi mobilitas, menghindari kerumunan, penguatan 3T dari pemerintah daerah, dibarengi dengan program vaksinasi COVID-19 untuk menciptakan kekebalan kelompok di masyarakat.

Menurut Nadia, seluruh aspek tersebut tidak bisa berdiri sendiri melainkan harus dijalankan secara berbarengan dan berkesinambungan.

Baca juga: Ahli: Antibodi penyintas COVID-19 bertahan tiga hingga delapan bulan

Baca juga: Kemristek kembangkan alat pengukur antibodi setelah divaksin COVID-19

Baca juga: IDI sampaikan saran saat vaksinasi COVID-19 agar antibodi terbentuk


Nadia mengatakan bahwa pemerintah memastikan untuk menjamin keamanan bagi masyarakat dalam program vaksinasi dengan mekanisme antisipasi kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI).

"Hingga saat ini tidak ditemukan adanya efek yang berat, yang ada hanya efek samping ringan, seperti reaksi lokal, nyeri, kemerahan, gatal-gatal pada lokasi suntikan yang dapat disembuhkan dalam kurun waktu sangat singkat," papar Nadia.
Pewarta : Aditya Ramadhan
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021