AS minta Turki untuk segera bebaskan Osman Kavala yang dipenjara

AS minta Turki untuk segera bebaskan Osman Kavala yang dipenjara

Presiden Turki Tayyip Erdogan menghadiri upacara peringatan Hari Kemenangan ke-98 di Anitkabir, makam pendiri Turki modern Ataturk, di Ankara, Turki, Minggu (30/8/2020). ANTARA FOTO/Presidential Press Office/Handout via REUTERS/AWW/djo.

Bengaluru (ANTARA) - Amerika Serikat pada Rabu (10/2) meminta Turki untuk segera membebaskan aktivis hak asasi manusia dan dermawan Osman Kavala, yang telah ditahan selama lebih dari tiga tahun tanpa hukuman.

"Tuduhan khusus terhadap Kavala, penahanannya yang sedang berlangsung, dan penundaan yang terus menerus dalam penyelesaian persidangannya, termasuk melalui penggabungan kasus-kasus terhadapnya, merusak rasa hormat terhadap supremasi hukum dan demokrasi," kata Departemen Luar Negeri AS.

Kavala dibebaskan setahun yang lalu dari dakwaan terkait protes anti pemerintah 2013, tetapi segera ditangkap kembali atas dakwaan terkait kudeta 2016 yang gagal. Pengadilan banding kemudian membatalkan pembebasannya dari tuduhan protes.

Pengadilan Turki pada Jumat pekan lalu memutuskan untuk menggabungkan dua kasus yang luar biasa dan menolak permintaan Kavala untuk dibebaskan.

Kavala dituduh oleh Turki bekerja sama dengan Henri Barkey, seorang sarjana Turki terkemuka yang berbasis di Amerika Serikat (AS), dan kedua tokoh tersebut dituduh mencoba menggulingkan tatanan konstitusional.

Menurut salah satu dakwaan, Barkey memiliki hubungan dengan jaringan ulama Muslim Turki yang berbasis di AS, Fethullah Gulen, yang menurut Ankara telah mengatur upaya kudeta tersebut. Gulen menyangkal keterlibatannya dan Barkey mengatakan tuduhan itu adalah "benar-benar rekayasa".

"Kami juga prihatin warga AS, Dr. Henri Barkey, dimasukkan dalam proses pengadilan yang tidak beralasan ini. Kami yakin dakwaan terhadap Dr. Barkey tidak berdasar," kata Deplu AS, Rabu.

Deplu AS mendesak Turki mematuhi keputusan Pengadilan HAM Eropa pada akhir 2019 bahwa Kavala harus dibebaskan.

Sumber : Reuters

Baca juga: Turki akan tangkap 238 orang diduga terkait dengan Gulen

Baca juga: Turki periksa pembaruan kebijakan WhatsApp

Baca juga: Presiden Turki Erdogan disuntik vaksin COVID-19 Sinovac


 

Kepolisian Turki sita 658 artefak bersejarah di Istanbul

Pewarta : Azis Kurmala
Editor: Tia Mutiasari
COPYRIGHT © ANTARA 2021