Teten sebut perlu peran koperasi atasi masalah UMKM

Teten sebut perlu peran koperasi atasi masalah UMKM

Dokumentasi - Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Teten Masduki (kanan) meninjau produk UMKM Bali yang dipamerkan saat kunjungan kerja di Rumah Sanur, Denpasar, Bali, Minggu (6/9/2020). ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/foc,

Jakarta (ANTARA) - Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyebutkan perlunya peran koperasi untuk mengatasi masalah UMKM sehingga ia berharap para pelaku UMKM dapat menjadi anggota koperasi.

Menteri Teten pada pembukaan Syukuran HUT Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) ke-46, secara daring, Rabu, mengatakan rata-rata UMKM memiliki persoalan dalam akses permodalan, produksi, dan pemasaran, sehingga sangat diperlukan peran koperasi.

"UMKM perlu terus didorong untuk bergabung dengan koperasi atau membentuk koperasi baru. Koperasi sebagai badan hukum diharapkan bisa menyokong kebutuhan usaha dan membantu UMKM mengatasi persoalan-persoalannya," katanya.

Baca juga: Teten sebut holding BUMN ultra mikro permudah UMKM naik kelas

Menurut Teten, pengembangan UMKM melalui koperasi berorientasi usaha berbasis model bisnis sirkuit ekonomi (hulu-hilir, kemitraan terbuka dengan para pihak/inclusive closed loop), pemanfaatan teknologi informasi untuk melayani anggota, dan inklusif terhadap perkembangan usaha anggota (promosi ekonomi anggota).

"Jadi, tidak hanya koperasinya saja yang besar, usaha anggotanya juga harus berkembang," kata MenkopUKM.

Tak lupa, Teten pun memberikan apresiasi kepada Iwapi ang memiliki kepedulian yang tinggi untuk memberdayakan kaum perempuan selama 46 tahun dan saat ini memiliki anggota lebih dari 30 ribu perempuan pengusaha.

Baca juga: Berdayakan pelaku UMKM, Pegadaian gandeng Ikatan Wanita Pengusaha

Anggota Iwapi terdiri dari 85 persen dengan skala usaha kecil dan mikro, 13 perseh usaha berskala menengah, dan 2 persen usaha dengan skala besar. "Sehingga, 98 persen anggota Iwapi adalah UMKM," kata Teten.

Dalam kesempatan yang sama, MenkopUKM menjelaskan bahwa penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia akibat pandemi COVID-19 yang sempat menyentuh angka - 5,32 persen di Triwulan II (terendah sejak 1999) dan -3,49 persen di Triwulan III 2020.

Namun demikian, lanjut Teten, dengan program PEN yang telah digulirkan pemerintah dengan anggaran sebesar Rp695,20 triliun, diharapkan pada 2021, proyeksi kisaran pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2021 akan rebound mencapai target 4,5 – 5,5 persen.

"Hal ini akan tercapai jika beberapa syarat dapat terpenuhi, yaitu, ketersediaan vaksin COVID-19, dukungan pada sisi supply dan demand, serta akselerasi reformasi regulasi, anggaran dan pengelola investasi," kata MenkopUKM.

Baca juga: Kemenkop tetapkan enam strategi bangkitkan koperasi dan UMKM

Sementara untuk reaktivasi dan penumbuhan kembali koperasi dan UMKM pascapandemi, pemerintah melalui UU Cipta Kerja, memberikan beberapa kemudahan bagi Usaha Mikro Kecil dan koperasi.

Antara lain, kemudahan untuk mendirikan koperasi, dimana pendirian koperasi cukup dengan 9 orang, Rapat Anggota secara daring/luring, usaha koperasi berdasarkan prinsip syariah dan perlindungan koperasi/bidang usaha yang diprioritaskan bagi koperasi.

Selain itu, ada juga Izin Tunggal bagi UMK, pengelolaan terpadu UMK, kemudahan pembiayaan dan insentif fiskal, prioritas penggunaan Dana Alokasi Khusus (DAK) bagi pengembangan UMK, Kemitraan UMK (alokasi 30 persen rest area/infrasrtuktur publik untuk UMK).

"Minimal 40 persen produk UMK diprioritaskan dalam pengadaan jasa pemerintah," kata Teten.
Pewarta : Hanni Sofia
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021