Otoritas Xinjiang gelar temu media dan lulusan kamp vokasi Uighur

Otoritas Xinjiang gelar temu media dan lulusan kamp vokasi Uighur

Tudigul Nur, perempuan suku minoritas Muslim Uighur lulusan kamp vokasi Xinjiang tahun 2019, menunjukkan foto bersama kedua anaknya di depan awak media lokal dan asing di Beijing, China, Rabu (10/2/2021). Perempuan yang kini menjadi kader partai di Kota Kashgar itu bercerita tentang anak keduanya yang lahir setelah lulus dari kamp. (ANTARA/M. Irfan Ilmie)

Beijing (ANTARA) - Pemerintah Daerah Otonomi Xinjiang (XUAR) memboyong 15 warga dari suku minoritas Muslim Uighur ke Beijing, China, Rabu, untuk menemui awak media lokal dan asing.

"Pertemuan kali ini agak berbeda karena kami membawa 15 orang yang semuanya lulusan pusat pendidikan dan pelatihan keterampilan (kamp vokasi)," kata Deputi Direktur Publikasi Partai Komunis China (CPC) XUAR Xu Guixiang.

Dalam pertemuan itu mereka menuturkan berbagai pengalamannya sejak sebelum mengenal kamp, menjadi penghuni kamp, hingga bekerja di berbagai bidang, termasuk membuka usaha sendiri seperti yang diceritakan oleh Mamat Abdullah Matursun yang kini menduduki posisi sebagai manajer perusahaan konstruksi.

"Dengan keterampilan yang saya peroleh selama mengikuti pelatihan, saya bisa bekerja dan kini saya sudah punya rumah baru," kata pria yang pernah menghuni kamp vokasi di Kabupaten Cele, Xinjiang, itu.

Lain lagi dengan cerita Miransa Kare, lulusan kamp vokasi di Kota Kashgar, yang kini menduduki posisi ketua penggerak kaum perempuan di desanya.

"Saya punya dua anak dan masih ingin memiliki anak lagi," ujarnya sambil menunjukkan foto bersama keluarganya.

Menurut dia, tidak ada larangan dari pemerintah China terhadap etnisnya untuk memiliki anak lebih dari dua.

Kare menepis rumor yang menyebutkan perempuan penghuni kamp vokasi dipaksa memasang alat kontrasepsi untuk menekan pertumbuhan laju penduduk beretnis Uighur di daerahnya.

Menurut dia, beberapa rekan satu kampnya di Kashgar banyak yang memiliki anak setelah selesai menjalani program pendidikan dan pelatihan keterampilan.

"Saya melahirkan bayi perempuan setelah lulus dari pusat pelatihan itu dan sekarang usianya sudah hampir satu tahun," kata Tudigul Nur mengamini pendapat rekannya itu sambil menunjukkan foto bersama kedua anaknya.

Praktik yang disebut pemerintah China sebagai pusat vokasi itu selama beberapa tahun terakhir telah menjadi sasaran kritik sejumlah pemerintah dan media asing yang menilainya sebagai pusat penahanan terhadap etnis minoritas Uighur di Xinjiang.

Baca juga: Blinken: AS akan bela HAM dan nilai demokrasi di Xinjiang

Baca juga: Tolak investigasi, Xinjiang undang asing

Baca juga: Inggris umumkan kebijakan bisnis terkait tuduhan kerja paksa Xinjiang
Pewarta : M. Irfan Ilmie
Editor: Gusti Nur Cahya Aryani
COPYRIGHT © ANTARA 2021