Diskominfotik : Kegiatan berenang Gubernur NTB di kolam spontanitas

Diskominfotik : Kegiatan berenang Gubernur NTB di kolam spontanitas

Kepala Dinas Komunikasi, Informasi dan Statistik (Diskominfotik) Nusa Tenggara Barat (NTB), I Gede Putu Aryadi. (ANTARA/Nur Imansyah).

Mataram (ANTARA) - Kepala Dinas Komunikasi, Informasi dan Statistik (Diskominfotik) Nusa Tenggara Barat I Gede Putu Aryadi mengatakan kegiatan berenang beramai-ramai di kolam yang dilakukan Gubernur Zulkieflimansyah bersama sejumlah pejabat adalah spontanitas semata dan kunjungannya ke Kabupaten Lombok Utara untuk menyapa masyarakat, dinilai telah memenuhi protokol kesehatan (Prokes) COVID-19.

"Hanya saja, saat selesai ibadah shalat subuh, masyarakat tiba-tiba meminta dan mengajak pak gubernur untuk melihat kolam renang yang dibangun secara swadaya oleh pokmas setempat. Intinya, pak gubernur itu ndak enak atas ajakan masyarakat," kata Aryadi pada wartawan saat menyampaikan klarifikasinya, di Mataram, Selasa.

Ia menegaskan, kunjungan ke kolam Mandala Water Park di Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara pada Sabtu (30/1) lalu yang viral di media sosial, dan juga telah menimbulkan beragam komentar di masyarakat, sejatinya tidak terjadwal secara resmi. Tak hanya itu, jika merujuk kaidah prokes COVID-19, maka kolam renang itu sangat luas, yakni kurang lebih 20 x 15 centimeter.

Menurut Gede, saat selesai shalat subuh hingga malam, masyarakat sudah beramai-ramai mendatangi gubernur yang kebetulan sesuai kebiasaan saat kunjungannya menyapa masyarakat di berbagai wilayah di NTB memang selalu menyempatkan menginap.

Bahkan, saat itu, gubernur di informasikan adanya kolam milik masyarakat yang dikelola oleh Pokmas Desa Bayan, terkait kekhasaan kolam air renang yang bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Terlebih sumber mata air kolam renang tersebut bersumber dari akar akar pohon tanaman hutan yang mengitari kawasan tersebut.

"Airnya sangat jernih dan menyegarkan, sehingga masyarakat di sekitarnya menyebut jika mandi di kolam itu, sakit seperti ngeriq awak (bahasa Sasak, red) atau meriang bisa sembuh," ujar Gede.

Padahal, agenda kunjungan gubernur ke Kabupaten Lombok Utara untuk menyerap kondisi progres bantuan rumah tahan gempa (RTG), bantuan jaminan hidup (jadup) bagi korban terdampak gempa bumi, serta sosialisasi prokes COVID-19.

"Jadi, tidak ada agenda resmi untuk mandi di kolam renang Mandala Water Park. Itu murni spontan saja, karena enggak enak atas ajakan dari masyarakat," katanya, menegaskan.

Dalam SOP prokes COVID-19, lanjut Gede, kegiatan outdor sejatinya dianjurkan pada masyarakat untuk berekreasi di pegunungan dan pantai.

Sementara itu, posisi kolam renang Mandala Water Park berada di hutan yang kebetulan tidak jauh dari kawasan Gunung Rinjani.

"Kalau secara teori, mandinya pak gubernur itu tidak melanggar prokes. Hanya saja yang di fotonya saja yang berkerumun. Padahal, aslinya kolam itu sangat luas dan terbuka di alam," ujar Gede Aryadi.

Ia menambahkan, gubernur sangat menmperhatikan masukan dan kritikan masyarakat terkait postingannya yang viral di medsos tersebut. Untuk itu, sebagai atensi atas perhatian publik, gubernur lantas meminta maaf atas postingannya tersebut.

"Pak gubernur itu terbuka orangnya pada siapapun. Makanya, beliau meminta maaf atas masukan masyarakat itu," katanya.

Sebelumnya, Gubernur NTB, H Zulkieflimansyah mengklarifikasi hebohnya media sosial karena postingannya yang sedang berenang beramai-ramai di kolam Mandala Water Park di Desa Bayan Kabupaten Lombok Utara pada Sabtu, 30 Januari 2021.

"Saya tidak menyangka sampai seperti itu. Kami kan menginap di Lombok Utara di Bayan dan kami disambut sangat hangat oleh masyarakat," kata Gubernur Zulkielimansyah saat di temui wartawan di Mataram, Senin (1/2).

Gubernur mengatakan bahwa tempat yang dikunjunginya tersebut layak untuk dipromosikan. Terlebih potensi wisata di kawasan tersebut terbilang masih sangat asri, dengan suasana kawasan perhutanan yang menjulang tinggi. Begitupun masyarakat di sekitarnya yang menyambut kunjungan gubernur dengan hangat, sehingga menerima tawaran untuk turut berenang bersama masyarakat setempat.

"Bayan ternyata punya sesuatu yang tidak pernah terpublikasikan selama ini. Ada kolam yang airnya itu tidak mengandung bahan kimia karena alami. Langsung dari hutan dan akar-akar pohonnya. Nah jadi karena saya gubernur membuat masyarakat itu antusias dan ingin kami bergabung mandi juga di situ. Saat itu saya kurang sehat sebenarnya, tapi ya sudah nyebur ke kolam. Setelah nyebur, hilang demamnya, sepertinya airnya berkhasiat," katanya.

Baca juga: DPRD ingatkan Gubernur NTB tak main-main soal prokes COVID-19

Gubernur menegaskan bahwa tindakannya yang turut berenang bersama warga masyarakat hanya spontanitas. Terkait penerapan protokol kesehatan yang dipertanyakan banyak orang pada media sosial, ia menjawab bahwa dengan kondisi berenang sangat tidak mungkin baginya untuk menggunakan masker.

Baca juga: Gubernur NTB minta maaf ke publik atas postingan berenang di kolam

Meski demikian ia meminta maaf tentang perbuatannya tersebut yang melakukan aktivitas di luar batas, pada momen yang tidak tepat.

"Tentang protokol COVID-19, kan gak mungkin pakai masker kami berenang. Itu spontan saja, kami bukan sengaja merencanakan untuk berenang. Saya pakai pakaian lengkap saat itu. Tapi saya minta maaf jika itu dirasa kurang baik di saat bencana dan angka COVID-19 meningkat," katanya.
Pewarta : Nur Imansyah
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2021