Menristek: Satelit penginderaan jauh penting untuk tangani karhutla

Menristek: Satelit penginderaan jauh penting untuk tangani karhutla

Tangkapan layar - Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro (panel tengah) dalam Rakor Nasional Citra Satelit Penginderaan Jauh 2021 yang diadakan virtual oleh LAPAN, diapantau dari Jakarta, Rabu (27/1/2021). ANTARA/Prisca Triferna/am.

Jakarta (ANTARA) - Menteri Riset dan Teknologi (Menristek)/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro menegaskan citra satelit penginderaan jauh berguna dalam tata kelola lahan, pemantauan titik api demi mencegah kebakaran hutan dan lahan, serta penanggulangan bencana.

Dalam Rapat Koordinasi Nasional Citra Satelit Penginderaan Jauh 2021 yang diadakan secara virtual dipantau di Jakarta, Rabu, ia memaparkan beberapa produk riset dan inovasi yang mengolah data dari citra satelit penginderaan jauh, seperti SPACeMAP, SIPANDORA, LAPAN Fire Hotspot, dan LAPAN Hub COVID-19.

"Fire hotspot saya yakin sangat critical untuk upaya kita menangani kebakaran hutan dan lahan," kata dia.

Penggunaan data dari satelit penginderaan jauh, ujarnya, juga dapat digunakan dalam kebutuhan mendesak seperti terkait dengan bencana yang terjadi baru-baru ini di Indonesia.

"Bencana yang banyak terjadi di Januari ini pastilah akan mengubah, misalkan tata guna lahan atau mengubah pola tempat tinggal manusia yang otomatis akan bisa dideteksi dengan citra satelit jarak jauh tersebut," ujarnya.

Baca juga: LAPAN adakan Rakor Nasional Citra Satelit Penginderaan Jauh 2021

Selain itu, katanya, penggunaan penginderaan jauh juga bisa dimanfaatkan untuk analisa penyebab bencana.

Beberapa hal tersebut membuat penginderaan jauh menjadi makin relevan dengan kondisi Indonesia yang rawan terkena bencana, baik karena lokasi yang berada di daerah "Cincin Api Pasifik" maupun ancaman bencana hidrometeorologi yang terjadi setiap tahun dan tidak bisa dianggap enteng.

Dia juga memberi contoh beberapa hasil pengolahan data dari penginderaan jauh yang sudah digunakan selama ini seperti Mosaik Data Terrasar-X (2020) dan Mosaik Data Pleiades (2018-2020).

"Dengan kemampuan kita untuk mendapatkan produk pemanfaatan penginderaan jauh ini, maka kita harapkan yang namanya proses dari pemetaan yang utamanya dilakukan Badan Informasi Geospasial, kemudian berlanjut pada perencanaan tata ruang dan kemudian bisa berujung pada perencanaan sektoral," demikian ujar Bambang.

Sebelumnya, LAPAN mengadakan Rakornas Citra Satelit Penginderaan Jauh 2021 pada hari ini dengan agenda serah terima data penginderaan jauh terbaru kepada kementerian/lembaga, TNI, POLRI, serta pemerintah provinsi, kabupaten dan kota.

Diadakan juga pemberian apresiasi Indriya Mandrawa kepada berbagai pihak yang aktif memanfaatkan data dan informasi penginderaan jauh selama 2020.

Baca juga: Menristek dorong peningkatan kapabilitas satelit penginderaan jauh
Baca juga: Lapan: Integrasi data citra satelit untuk K/L hemat triliunan rupiah
Pewarta : Prisca Triferna Violleta
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2021